Semusim...


Setiap kata yang terucap dari bibir manismu selalu terdengar lembut di telingaku. Walau kadang aku tak mengerti apa yang kau katakan namun, selalu kucoba untuk memahami. Tak jarang kau juga membuatku kesal tapi kau selalu menenangkanku. Entah sejak kapan aku merasa begitu. Mungkin… sejak aku mengenalmu pertama kali. Ya, aku rasa begitu. Sejak aku menyebutmu ‘Bintang’.

“Selamat pagi, Bintangku!” sapaku pagi itu pada seorang sahabatku yang tengah duduk di depan kelasnya. Namun, ia hanya membalasnya dengan senyum dan lesung pipi yang membuatnya semakin terlihat manis di mataku.

Akupun berlalu meninggalkannya yang tengah duduk di depan kelasnya. Bagiku tak ada yang aneh. Bintang yang aku kenal memang aneh. Sesaat ia menjadi seseorang yang dingin, sangat dingin namun ia juga bisa menjadi seseorang yang begitu menyenangkan. Tapi, ia tetap selalu ada untukku seperti apapun dirinya. Aku tak peduli ketika ia menjadi dingin. Sebab, dialah sahabatku. 

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Jadi, jangan pulang dulu,” kata Bintang berbisik di telingaku. Suara lembutnya membuatku melayang. Aku hanya terdiam sesaat. 

“I…Iya. Suatu tempat?”

“Iya. Memangnya kenapa?”

Aku hanya terdiam dan menggelengkan kepala. Lalu ia sedikit menjauh dariku. Akupun terus menatapnya yang sedang asyik menggambar. Aku tak ingin mengganggunya sedetikpun. Itu hobinya. Sesekali kulihat apa yang digambarnya. 

“Aku ke kelas, ya?” 

Tanpa menunggu jawabannya langsung saja aku pergi karena, aku rasa ia tak keberatan jika aku lebih dahulu kembali ke kelas.  Kelasku jauh dari perpustakaan. Perpustakaan berada di lantai bawah, sedangkan kelasku dilantai 3. 

Lega rasanya semua tugasku selesai dengan baik. Kini saatnya aku pulang. Jadi, tak ada tugas yang menumpuk di rumah hari ini. Setelah bel pulang berbunyi aku pun bergegas keluar dan menuju lantai 2. Sepanjang koridor belum satupun siswa kelas 3 yang keluar. Aku pun memutuskan untuk menunggu di depan kelasnya. Beberapa menit kemudian ia keluar dan menghampiriku.

“Maaf membuatmu menunggu, Adik kecil,” katanya seraya mengusap-usap kepalaku. Memang baginya aku seperti anak kecil. Sebab tubuhku yang kecil ini tak pernah lebih dari pundaknya. Ia sering menertawakan aku saat aku  memintanya untuk bermain basket bersamaku.

Ia meraih tanganku dan membawaku pergi menuju suatu tempat. Keluar dari gerbang sekolah, berjalan menyeberangi jembatan di tengah kota dan menuju stasiun kereta yang tak jauh dari sana. Ke arah mana ia akan membawaku? Ia membeli 2 buah tiket dengan tujuan Kyoto. Kyoto? Untuk apa ia mengajakku ke sana?
Tanpa kumengerti kuikuti saja kemanapun ia melangkah. Tak lama kemudian kereta tujuan Kyoto telah bersandar di peron stasiun. 

“Ayo, cepat naik!” perintahnya sembari mengulurkan tangan padaku. Secepat mungkin kuraih tangannya.
Sekian lama kami terdiam dalam hening. Hanya kudengar sesekali ia menghela napas. Namun tak ada kata-kata yang terucap. Aku pun tak ingin mengajaknya bicara saat ini. Aku lebih suka memandangi langit biru sore itu yang akan segera didampingi oleh mega. Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu setelah serasa terbang mengikuti awan putih lembut itu.

“Untuk apa kau mengajakku ke Kyoto?” suaraku mengusir keheningan.

“Adik kecil, tak bisakah kau bersabar menunggu jawaban?” katanya. Aku hanya tertuduk karena dia terus memandangi wajahku.

“Jawabannya bukan ada pada diriku. Tapi, nanti kau juga akan mengerti,” katanya lagi.

“Apa aku masih boleh bertanya?”

Ia menertawakan aku. Apa ada yang salah dengan ucapanku? 

“Bukankah baru saja kau bertanya padaku? Tentu saja boleh. Sejak aku mengenalmu, kau tak pernah berubah. Kau tetap polos,”

Lalu ia kembali tertawa. Mengapa kau selalu menganggapku seperti anak kecil? Umurku sudah 16 tahun. Sekarang aku sudah kelas 2 SMA dan bukan murid TK lagi. Aku tahu kau lebih tua dariku tapi bukan berarti kau selalu menganggapku anak kecil selamanya. 

Kereta berhenti di stasiun Kyoto. Ia meraih tanganku dan membawaku keluar, lalu turun dari kereta. Berjalan dan terus berjalan. Aku yang tak tahu daerah Kyoto hanya menurut saja. Tiba-tiba ia menghentikan langkah di depan sebuah kedai yang tampak sederhana namun ramai dipenuhi pengunjung. Ia melepaskan tanganku kemudian masuk dan memintaku menunggu sejenak. Tak lama kemudian ia keluar membawa dua gelas cokelat panas. 

“Ini untukmu. Aku tak ingin kau sakit karena aku,” katanya sambil memberikan segelas cokelat panas padaku.

“Terima kasih,” kataku seraya tersenyum. 

Perlahan mega berarak menyelimuti langit Kyoto. Udara mulai terasa dingin. Sesekali angin menyapu dedaunan. Lampu-lampu kota mulai menerangi jalan. Ia menghentikan langkahku.

“Inilah tempat yang aku maksud,”

Makam yang tak jauh dari pusat kota. Makam siapa yang ia tuju? Tanyaku dalam hati. Ayah dan ibunya masih hidup. Apa mungkin kakek atau neneknya? Atau saudaranya yang lain? Ia terus berjalan di depanku hingga ia terhenti di depan sebuah makam yang tampaknya baru saja dikunjungi seseorang. Tampak seikat bunga Lili di atasnya. 

“Makam siapa?”

“Seseorang yang telah membuatku menjadi seperti ini. Dia yang telah memberikan warna dalam hidupku dan dia yang membuatku merasa sempurna,”

“Siapa?”

Ia terdiam cukup lama. Matanya berkaca-kaca. Akupun mendekatinya, merangkul pundaknya.

“Ma…”

Sebelum sempat aku melanjutkan kata-kataku ia memelukku dengan erat. Perlahan air matanya mengalir di pipinya dan jatuh membasahi seragamku. Baru kali ini kulihat ‘Bintangku’ menangis. Sebab, kutahu ia bukan seseorang yang mudah untuk mengeluarkan air mata. Aku mengerti di satu sisi Alfino tetap manusia biasa.

“Seseorang yang pernah menjadi kekasihku, Vela,” katanya dengan perlahan melepaskan pelukannya. Kulihat dengan cepat ia menghapus air matanya dan tersenyum padaku.

“Kau tahu, Adik kecil? Dia seperti dirimu. Tak jauh berbeda. Mata indahmu yang selalu mengingatkanku padanya. Hanya saja ia menjadi masa laluku dan meninggalkanku,” katanya lagi. Aku hanya dapat terdiam mendengarkan apa yang terucap dari bibirnya.

“Lalu untuk apa kau mengajakku?”

“Karena kaulah satu-satunya sahabat yang aku miliki. Karena aku hanya ingin, kau tahu aku apa adanya. Karena aku merasa kau dapat menjagaku dan membuatku lebih baik,”

Aku hanya tersenyum ketika mendengar jawabannya. Langit Kyoto sudah mulai gelap dan aku ingin secepatnya meninggalkan tempat ini juga kota ini. Apa dia belum puas? Dengan sabar aku menunggunya yang masih berdoa.

Hemmh… kudengar hembusan napasnya ia pun berdiri dan mengajakku pulang. Lega rasanya, akhirnya aku pulang. Kembali ke stasiun dan pulang menuju Nagoya. Kota dimana aku dibesarkan. Entah mengapa aku begitu menyukai tempat itu. Aku lahir di Tokyo lalu ayah dan ibu membawaku ke Matsumoto saat aku masih SD. Lalu ketika aku SMA saat itulah kutemukan Bintangku, Alfino.

“Vinda,” seseorang memanggil namaku. Sepertinya suara itu tak asing lagi bagiku. Memang benar. Bintang memanggilku. Selama ini tak pernah kudengar ia menyebut namaku, Vinda. Ia terlalu asyik memanggilku dengan Adik kecil.

Setibanya di Nagoya kulirik arloji di tangan kiriku. Jarum jam menunjukkan pukul 7.

“Langsung pulang?” tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk.

Tes.. tes.. tes.. perlahan hujan turun. Ia meraih tanganku dan memasukkan ke dalam saku jaketnya lalu membawaku lari. Ia tak ingin aku kehujanan dan jatuh sakit. Padahal dia tahu bahwa aku sangat menyukai hujan, karena kodok tak pernah membenci hujan. Seperti daun yang jatuh dan tak pernah membenci angin. Hujan semakin deras ia pun semakin kencang membawaku berlari.

Hosh.. hosh.. hosh.. napasnya terengah-engah. Sesaat ia menarik napas dalam-dalam dan detak jantungnya mulai normal kembali. Wajahnya tampak sedikit pucat di bawah sorot lampu teras rumahku.

“Kalian sudah pulang?” kata ibu sambil sembari membukakan pintu setelah beberapa detik yang lalu aku mengetuknya.

“Ayo masuk!”

Bintangku masuk dan duduk di sofa. Bergegas aku mengganti baju dan memberikannya handuk. Jaketnya basah, aku tak ingin dia kedinginan saat pulang nanti.

“Terima kasih,”

Ibu sudah menyiapkan segelas teh hangat untuknya. Aku menunggunya di sofa, kuharap dia cepat pulang. Aku tak ingin dia lebih lama di sini dan pulang lebih lama lagi. Sebab esok ia harus bimbingan sepulang sekolah.

“Ini teh untukkmu,” aku menyodorkan segelas teh hangat saat ia baru saja keluar dari kamar mandi dan mendekatiku.

“Terima kasih, boleh aku pulang sekarang?”

“Tentu saja,”

Lima belas menit setelah ia pulang aku memilih untuk mengurung diri di kamar dan mengenang setiap detik bersamanya hari ini. Ia membuatku tersenyum tanpa alasan. Aku suka rambutnya yang basah karena air hujan. Aku suka suaranya saat memanggilku ‘Adik kecil’. Suara ponselku membubarkan semuanya. Satu pesan diterima.

From: Bintangku
おやすみなさい [1]^_^..
 today is nice day.. :)

Dia senang. Senang karena bisa menghabiskan waktu bersamaku atau senang dapat mengunjungi makam seseorang yang pernah membuatnya sempurna?

Tiba-tiba saja hari ini membuatku malas bertemu Bintangku. Beberapa kali ia mengirim pesan singkat tapi tak ada niat sedikitpun untuk membalasnya. Dia membuatku selalu ingin menghindar, hingga akhirnya ia ke kelas dan mencariku. Aku tak bisa mennghindar lagi. Langsung saja ia masuk ke dalam kelasku dan menghampiriku yang berusaha untuk menyibukkan diri dengan buku-buku di atas mejaku.


[1]) Oyasuminasai=good night

#to be continued#

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM HANDASAH ACARA I PENGENALAN ALAT

Let's Talk About Love

MAKALAH : KONTRIBUSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA DIKAJI DARI GEOGRAFI EKONOMI