MAKALAH : KONTRIBUSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA DIKAJI DARI GEOGRAFI EKONOMI
MAKALAH
KONTRIBUSI
SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA DIKAJI DARI GEOGRAFI
EKONOMI
Dosen
Pembimbing:
Dr. I Nyoman
Ruja, S.U
Oleh :
Kelompok I
Dwi Nugroho
Erianto (130722616071)
Fajar Setio
Nuryanto (130722616101)
Fatma Roisatin
N. (130722616093)
Hendrik Ferdi
S. (130722616079)
Khilyatul
Fitria (130722607360)
M. Misbahullah (130722607346)
Offering: H
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
JURUSAN
GEOGRAFI
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan makalah dengan judul Kontribusi Sumber Daya Manusia
dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia Dikaji dari Geografi Ekonomi.
Keberhasilan penulis dalam menyusun makalah ini tentunya tidak
lepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, tidak lupa penulis ucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian karya
tulis ilmiah ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1.
Dr. I Nyoman
Ruja, S.U, selaku Dosen Pembimbing matakuliah Geografi Ekonomi,
2.
Orang tua
penulis yang telah banyak memberi dukungan baik moril maupun materiil,
3.
Serta
pihak-pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.
Akhir kata, karya penulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu kami senantiasa menampung kritik dan saran untuk menghasilkan karya yang
lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita dan dapat menambah
wawasan serta kepekaan kita mengenai keadaan yang terjadi di masyarakat.
Malang, 2014
DAFTAR ISI
Halaman Judul 1
Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3
BAB I PENDAHULUAN 4
1.1 Latar Belakang 4
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan 4
BAB II LADASAN TEORI
2.1
Geografi
Ekonomi 5
2.2
Sumber Daya Manusia 5
2.3 Pembangunan Ekonomi 6
2.4 Tujuan Pembangunan
Ekonomi 7
BAB
III PEMBAHASAN
3.1
Peranan Sumber Daya Manusia (SDM)
dalam Pembangunan Ekonomi Nasional 9
3.1.1
Penduduk sebagai Produsen 10
3.1.2
Penduduk sebagai Konsumen 10
3.1.3
Penduduk sebagai Distributor 11
3.2 Pengaruh Tingkat Perkembangan Penduduk
terhadap Pembangunan Ekonomi 11
3.3 Kendala yang
Dihadapi SDM dalam Pembangunan Ekonomi Nasional 12
BAB IV PENUTUP 19
4.1
Kesimpulan 19
4.2
Saran 19
Daftar Rujukan 20
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Indonesia
merupakan negara salah satu negara berkembang, oleh karena itu diperlukan
pembangunan di berbagai bidang. Pembangunan di Indonesia merupakan tujuan untuk
melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu pembangunan yang diperlukan yaitu di
bidang ekonomi. Dalam pembangunan ekonomi diperlukan sumber daya manusia yang
handal agar dapat mengelola sumber daya alam secara optimal, arif dan
berkelanjutan. Sebab, manusia memiliki peran penting dalam terlaksananya
pembangunan ekonomi. Dari kajian Geografi Ekonomi, sumber daya manusia dalam
aspek keruangan yang berhubungan dengan eksplorasi sumber daya alam dari bumi oleh
manusia, produksi dari komoditi (bahan mentah, bahan pangan, bahan pabrik)
kemudian usaha transportasi, distribusi dan konsumsi. (Suharyono, 1994:34)
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana peran
sumber daya manusia terhadap pembangunan ekonomi nasional?
2.
Bagaimana
pengaruh jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi nasional?
3.
Apa saja
kendala yang dihadapi sumber daya manusia dalam pembangunan ekonomi nasional?
1.3
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui peran sumber daya manusia terhadap pembangunan ekonomi nasional.
2.
Untuk mengetahui
pengaruh jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
3.
Untuk
mengetahui kendala yang dihadapi sumber daya manusia dalam pembangunan ekonomi
nasional dan dapat memberikan solusi alternatif dalam menghadapi kendala
tersebut.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1
Geografi
Ekonomi
Nursid (1988:54 )
geografi ekonomi sebagai cabang geografi manusia yang bidang studinya struktur
aktivitas keruangan ekonomi sehingga titik berat studinya adalah aspek
keruangan struktur ekonomi manusia yang di dalamnya bidang pertanian,
industri-perdagangan-komunikasi-transportasi dan lain sebagainya.
H. Robinson (1979)
geografi ekonomi sebagai ilmu yang membahas mengenai cara-cara manusia dalam
kelangsungan hidupnya berkaitan dengan aspek keruangan, dalam hal ini
berhubungan dengan eksplorasi sumber daya alam dari bumi oleh manusia, produksi
dari komoditi (bahan mentah, bahan pangan, barang pabrik) kemudian usaha
transportasi, distribusi,dan konsumsi.
Suharyono, (1994 : 34).
Geografi ekonomi merupakan cabang dari geografi manusia di mana bidang studinya
adalah struktur keruangan aktivitas ekonomi. Miller,Aleksander (1984). Geografi
sebagai studi variasi keruangan di permukaan bumi di mana manusia melakukan
aktivitas yang berhubungan dengan produksi,pertukaran dan pemakaian sumber daya
demi kesejahteraannya.
Dapat diartikan bahwa
geografi ekonomi berarti mengenai ruang lingkup manusia dalam aktivitas
ekonominya. Di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan ekonomi yang dilakukan
manusia. Setiap daerah pasti berbeda aktivitas atau kegiatan ekonominya, karena
setiap daerah atau ruang itu berbeda. Jadi, geografi ekonomi adalah aktivitas
ekonomi manusia sebagai objeknya di satu ruang atau ruang tertentu.
2.2 Sumber Daya Manusia
Menurut Gomes (1997),
Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang terdapat dalam suatu
organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas. Dalam suatu
organisasi perlu adanya suatu manajemen yang mengelola sumber daya manusia yang
ada untuk mencapai tujuan organisasi. Mathis dan Jackson (2006) mengartikan
manajemen sumber daya manusia sebagai rancangan sistem – sistem formal dalam
sebuah organisasi untuk memastikan penggunaan bakat manusia secara efektif dan
efisien guna mencapai tujuan – tujuan organisasional. Tugas manajemen sumber
daya manusia adalah untuk mengelola unsur manusia secara baik agar diperoleh
tenaga kerja yang puas akan pekerjaannya.
Menurut Werther dan
Davis yang dikutip oleh Edy Sutrisno menyatakan bahwa sumber daya manusia
adalah pegawai yang siap, mampu dan siaga dalam mencapi tujuan – tujuan
organisasi (Werther dan Davis dalam Sutrisno, 2009:1)
Menurut Hadari Nawami
yang dikutip oleh Ambar Teguh Sulistiyani dan Rosidah yang dimaksudkan sebagai
sumber daya manusia meliputi tiga pengertian yaitu
- Sumber daya manusia adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu organisasi (disebut juga personil, tenaga kerja, pegawai atau karyawan)
- Sumber daya manusia adalah potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya.
- Sumber daya manusia adalah potensi yang merupakan asset dan berfungsi sebagai modal (non material/nonfinansial) didalam organisasi bisnis, yang dapat diwujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non fisik dalam mewujudkan eksistensinya. (Nawami dalam Sulistiyani dan Rosidah, 2003:9)
Selain definisi Sumber
daya manusia diatas Faustino Cardoso Gomes (2003:1) menyebutkan bahwa: Sumber
daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang terdapat dalam organisasi,
meliputi semua orang yang melakukan aktivitas.
2.3. Pembangunan Ekonomi
Menurut Lincolin Arsyad
(1993:4), Pembangunan ekonomi adalah kegiatan – kegiatan yang dilakukan suatu
Negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf hidup
masyarakatnya. Dengan batasan tersebut, maka pembangunan ekonomi pada
umumnya didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan
perkapita penduduk suatu Negara meningkat dalam jangka panjang. Dari batasan
dan defenisi tersebut dapat diperoleh pengertian bahwa pembangunan ekonomi
adalah
- Suatu proses, yang berarti perubahan secara terus menerus
- Usaha untuk menaikkan pendapatan perkapita.
- Kenaikan pendapatan perkapita yang berlangsung dalam jangka panjang.
Definisi pembangunan
ekonomi menurut Maier adalah suatu proses dimana pendapatan perkapita suatu
Negara meningkat selama kurun waktu yang panjang. Dengan catatan bahwa; jumlah
penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan absolut tidak meningkat dan
distribusi pendapatan tidak semaking timpang (Maier dalam Mudrajad Kuncoro,
1997:17)
Menurut Suparmoko,
pembangunan atau perkembangan ekonomi adalah kegiatan yang menunjukkan perubahan
– perubahan dalam struktur output dan alokasi imput pada berbagai sektor
perekonomian, disamping kenaikan output. (Irawan dan M. suparmoko,
1987:5)
2.4 Tujuan Pembangunan
Ekonomi
Pembangunan didefinisikan sebagai
upaya suatu bangsa untuk meningkatkan
mutu
dengan memanfaatkan sumber
daya yang ada,
baik sumber daya
manusia
maupun sumber daya alam melalui proses perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi yang berkelanjutan (Sudarja 2005 :1). Sedangkan
menurut Soerjono Soekamto (1990:454) Pembangunan merupakan
suatu proses perubahan
di segala bidang
kehidupan yang dilakukan secara
sengaja berdasarkan suatu
rencana tertentu. Pembangunan
nasional Indonesia misalnya, merupkan suatu proses perubahan yang
dilakukan berdasarkan rencana
tertentu dengan sengaja
dan memang dikaehendaki
, baik oleh
pemerintah yang menjadi pelopor pembangunan maupun masyarakat.
Pembangunan menurut kacamata
Sosiologis terbagi menjadi tiga dimana setiap bagian memiliki dimensi ukuran,
yaitu :
1. Pertumbuhan
(Growth) yang diukur melalui Perkapita, GNP, Fasilitas sosial
2. Perbaikan
(Improvement) yang di fokuskan pada distribusi/pemerataan diukur melalui kurva
lorenz dan koefisien gini.
3. Perubahan
(Change) yang direncanakan dan diarahkan (Planned and Directed) yang diukur
strata sosial dan indikator sosial
4. Ukuran yang
lebih komprehensif di
ukur melalui Indeks
Mutu Hidup (IMH) atau Quality of Lives. IMH terdiri dari
komponen angka harapan hidup (AHH), angka kematian Bayi (AKB) dan Angka Melek
Huruf (AMH).
Soekamto
(1990:454) Proses pembangunan
bertujuan untuk meningkatkan
taraf hidup masyarakat , baik secara material maupun
spiritual. Peningkatan taraf hidup masyarakat mencakup suatu perangkat
cita-cita yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Pembangunan harus
bersifat rasionalistis, artinya
haluan yang diambil
harus berlandaskan pada pertimbangan rasional dalam suatu sistem.
b. Adanya rencana
Pembangunan dan proses Pembangunan
. Artinya adanya keinginan untuk
selalu membangun pada
ukuran dan haluan
yang terkoordinasi secara rasional dalam suatu sistem.
c. Peningkatan
Produktivitas
d. Peningkatan
standar kehidupan
e. Kedudukan, peranan
dan kesempatan yang
sederajat dan sama
dibidang politik, sosial, ekonomi dan hukum
f. Pengembangan lembaga-lembaga sosial
dan sikap-sikap dalam
masyarakat Konsolidasi nasional dan
g. Kemerdekaan
nasional
Dari pemaparan diatas kita dapat
merekonstruksi kembali tentang hakekat SDM
yang berkualitas untuk membangun bangsa ini.
Pembangunan ekonomi menurut Maier bertujuan untuk membangun
identitas nasional atau kepribadian bangsa. Adapun cara untuk mencapai tujuan
ini sangat dipengaruhi pandagan hidup bangsa tersebut dalam upaya menaikkan
output nasional dan pendapatan masyarakat. (Maier dalam Mudrajad Kuncoro,
1997:17)
Irawan dan Suparmoko
mengartikan pembangunan ekonomi sebagai usaha untuk meningkatkan taraf hidup
suatu bangsa yang diukur melalui tinggi rendahya pendapatan perkapita. Jadi
tujuan pembangunan ekonomi disamping meningkatkan pendapatan nasional riil,
juga meningkatkan produktivitas ( Irawan dan M. Suparmoko, 1987:7)
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1
Peranan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam Pembangunan Ekonomi Nasional
Sumber daya manusia (SDM)
merupakan seluruh kemampuan atau potensi penduduk yang berada di dalam suatu
wilayah tertentu beserta karakteristik atau ciri demografis, sosial maupun
ekonominya yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembangunan. Jadi
membahas sumber daya manusia berarti membahas penduduk dengan segala potensi
atau kemampuannya yang terdiri atas aspek kualitas dan kuantitas.
Bicara tentang kuantitas (jumlah) berarti
menunjukkan bagaimana karakteristik demografis tentang jumlah dan pertumbuhan
penduduk, penyebaran dan komposisi penduduk. Sedangkan untuk kualitas
(mutu) menjelaskan bagaimana seorang manusia berhubungan dengan karakteristik sosial
dan ekonomi agar terciptanya suatu keberhasilan dalam pembangunan suatu Negara.
Tentunya sangat dibutuhkan sekali sumber daya manusia yang tangguh, unggul dan
baik secara fisik maupun mental.
Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor
kunci dalam persaingan global, yakni bagaimana menciptakan SDM yang
berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam
persaingan global yang selama ini kita abaikan. Globalisasi yang sudah pasti
dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya
saing dalam dunia usaha.
Sumber daya manusia atau penduduk menjadi asset tenaga
kerja yang efektif untuk menciptakan kesejahteraan. Kekayaan alam yang melimpah
tidak akan mampu memberikan manfaat yang besar bagi manusia apabila sumber daya
manusia yang ada tidak mampu mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam yang
tersedia.
3.1.1 Penduduk sebagai Produsen
Masyarakat sebagai produsen mencakup berbagai
bentuk kegiatan masyarakat yang dapat menghasilkan pendapatan, misalnya dapat
berupa kegiatan usaha, berdagang, bercocok tanam, beternak, dan sebagainya.
Sistem ekonomi Indonesia memiliki acuan yang
jelas, yaitu Undang-Undang Dasar 1945. Maka dari itu sistem ekonomi bukanlah
pasar bebas maupun perencanaan sentral, melainkan sistem ekonomi Indonesia
mendasarkan pada ekonomi kerakyatan. Dalam sistem ekonomi kerakyatan masyarakat
memegang peranan aktif dalam kegiatan ekonomi, sedangkan pemerintah menciptakan
iklim yang sehat bagi pertumbuhan dan perkembangan dunia usaha.
Sistem ekonomi kerakyatan dapat didefinisikan
sebagai pengaturan kehidupan ekonomi yang memungkinkan seluruh potensi
masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi.
Kesejahteraan rakyat yang meningkat, merata, dan berkeadilan merupakan tujuan
utama demokrasi ekonomi kerakyatan.
Salah satu pilar penyangga ekonomi kerakyatan
adalah usaha informal yang berkembang dalah kehidupan masyarakat.
Ciri-ciri sektor usaha informal adalah sebagai
berikut :
- Sektor usaha informal tidak memiliki alat-alat produksi yang canggih.
- Pelaku ekonomi sektor usaha informal tidak memiliki pendidikan / keahlian khusus.
- Sektor usaha informal dapat membuka lapangan kerja yang tidak sedikit jumlahnya.
- Sektor usaha informal hanya memiliki ruang lingkup usaha ekonomi yang sempit dan kecil.
Beberapa contoh kegiatan ekonomi sektor usaha
informal adalah :
- Pedagang asongan
- Pedagang sambilan
- Pedagang kaki lima
- Pedagang keliling
3.1.2 Penduduk sebagai Konsumen
Masyarakat sebagai konsumen memerlukan barang
dan jasa bagi kelangsungan hidup masyarakat. Masyarakat adalah pengguna
(konsumen) "public goods" atau
produk-produk umum, seperti jalan raya, jembatan, rumah sakit, sekolah, dan
lain-lain. Penggunaan public goods yang
pada umumnya disediakan oleh pemerintah pusat maupun daerah, bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya.
Masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan atau pengangguran
merupakan bentuk kehidupan yang hanya melakukan kegiatan konsumsi saja,
sehingga sering menimbulkan masalah di masyarakat. Berbagai tindak kejahatan
dilakukan semata-mata karena untuk memenuhi kegiatan konsumsi. Di mana orang
memiliki banyak kebutuhan, tetapi tidak memiliki pekerjaan yang dapat
menghasilkan pendapatan bagi pemenuhan kebutuhan tersebut.
Oleh karena
itu, penting bagi setiap orang sejak dini tertanam sikap untuk mampu
berproduksi dan bukan hanya melakukan konsumsi saja. Di samping itu berkaitan
dengan kegiatan konsumsi, perlu dilandasi sikap mental untuk bisa mengukur
kemampuan diri, sehingga tidak besar pasak daripada tiang.
3.1.3 Penduduk sebagai Distributor
Masyarakat sebagai distributor diwujudkan dalam
bentuk terjadinya penyaluran proses penyaluran barang dan jasa dari produsen ke
konsumen. Lalu lintas perdagangan dan transportasi yang membawa barang-barang
pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan masyarakat merupakan bentuk kegiatan
distribusi yang berlangsung di masyarakat.
Kelancaran arus distribusi yang berlangsung di
masyarakat dapat kita amati dari lancar-tidaknya proses transportasi barang
kebutuhan dari satu kota ke kota yang lain. Salah satu faktor yang memicu
terjadinya kelangkaan barang antara lain disebabkan ketidaklancaran proses
distribusi. Hal ini sering terjadi di daerah-daerah yang sulit transportasinya.
3.2 Pengaruh Tingkat Perkembangan Penduduk terhadap
Pembangunan Ekonomi
Penduduk memiliki dua peranan dalam pembangunan
ekonomi; satu dari segi permintaan dan yang lain dari segi penawaran. Dari segi
permintaan penduduk bertindak sebagai konsumen dan dari segi penawaran
bertindak sebagai produsen. Oleh karena itu perkembangan penduduk yang cepat
tidak selalu merupakan penghambat bagi
jalannya pembangunan ekonomi jika penduduk ini mempunyai kapasitas yang tinggi
untuk menghasilkan dan menyerap hasil produksi yang dihasilkan. Ini berarti
tingkat pertambahan penduduk yang tinggi disertai dengan tingkat penghasilan
yang tinggi pula. Jadi pertambahan penduduk dengan tingkat penghasilan yang
redah tidak ada gunanya bagi pembagunan ekonomi.
Kalau seandainya terjadi penurunan jumlah
penduduk, maka akan terjadi pula penurunan dalam rangsangan untuk mengadakan
investasi dan permintaan agregatif juga akan turun. Jika perkembangan penduduk
tertunda maka akumulasi kapital juga akan menjadi lesu karena beberapa alasan,yaitu:
wiraswasta akan mengira bahwa pasar menjadi semakin sempit. Sedangkan karena
tingkat keuntungan merupakan fungsi dari luasnya pasar, maka investasi yang
tergantung pada tingkat keuntungan akan menurun. Disamping alasan itu
pertambahan penduduk juga mendorong adanya perluasan investasi karena adanya
kebutuhan perumahan yang semakin besar dan juga kebutuhan-kebutuhan yang
bersifat umum seperti jalan raya, fasilitas transportasi umum, persediaan air
minum, kesehatan dan sebagainya. Kebutuhan akan kapital dalam bidang ini
relatif lebih besar daripada bidang-bidang lain sehingga penurunan tingkat
perkembangan penduduk akan mengakibatkan turunya akumulasi kapital.
Produktivitas penduduk dinegara-negara berkembang
adalah rendah sehingga mengakibatkan rendahnya produksi pula. Karena sebagian
besar penduduk tinggal di desa dan hidupnya sebagian berasal dari sector
pertanian. Maka hampir semua hampir semua penghasilan yang didapatnya akan
dikondumeir seluruhnya. Seandainya ada sisa, hanya relatif kecil jumlahnya. Akibatnya
tingkat investasi juga akan rendah. Jadi, di negara-negara sedang berkembang, dimana
sudah terdapat perbandingan yang tinggi antara jumlah manusia dan jumlah
faktor-faktor produksi yang lain, perkembangan penduduk yang cepat akan
menimbulkan diseconomies of scale. Di negara-negara yang sedang
berkembang dimana kepadatan penduduk yang cepat akan dapat pula mendorong
perkembangan ekonomi, apabila kapital dan kemampuan managerial termasuk
organisasi dan administrasi dapat mengimbangi tantangan penduduk tersebut.
3.3 Kendala yang Dihadapi SDM dalam Pembangunan Ekonomi Nasional
Dalam pencapaian pembangunan ekonomi nasional banyak
kendala yang dihadapi. Termasuk juga SDM yang ada juga mengalami kendala –
kendala dalam pengembangan pembangunan ekonomi nasional, diantaranya:
Tingkat Pendidikan
Keadaan
penduduk di negara-negara yang sedang berkembang tingkat pendidikannya relatif
lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara maju, demikian juga dengan
tingkat pendidikan penduduk Indonesia. Rendahnya tingkat pendidikan penduduk
Indonesia disebabkan oleh:
- Tingkat kesadaran masyarakat untuk bersekolah rendah.
- Besarnya anak usia sekolah yang tidak seimbang dengan penyediaan sarana pendidikan.
- Pendapatan perkapita penduduk di Indonesia rendah.
Dampak yang
ditimbulkan dari rendahnya tingkat pendidikan terhadap pembangunan adalah:
- Rendahnya penguasaan teknologi maju, sehingga harus mendatangkan tenaga ahli dari negara maju. Keadaan ini sungguh ironis, di mana keadaan jumlah penduduk Indonesia besar, tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan tenaga ahli yang sangat diperlukan dalam pembangunan.
- Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan sulitnya masyarakat menerima hal-hal yang baru. Hal ini nampak dengan ketidakmampuan masyarakat merawat hasil pembangunan secara benar, sehingga banyak fasilitas umum yang rusak karena ketidakmampuan masyarakat memperlakukan secara tepat. Kenyataan seperti ini apabila terus dibiarkan akan menghambat jalannya pembangunan. Oleh karena itu, pemerintah mengambil beberapa kebijakan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan masyarakat.
Usaha-usaha
tersebut di antaranya:
- Pencanangan wajib belajar 9 tahun.
- Mengadakan proyek belajar jarak jauh seperti SMP Terbuka dan Universitas Terbuka.
- Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan (gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain).
- Meningkatkan mutu guru melalui penataran-penataran.
- Menyempurnakan kurikulum sesuai perkembangan zaman.
- Mencanangkan gerakan orang tua asuh.
- Memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi.
Sistem pendidikan perlu dirubah total
karena jika kita terus bertahan disistem pendidikan lama seperti sekarang ini
maka kita akan terus terpuruk khususnya dibidang ekonomi. Karena sistem
pendidikan diIndonesia terus menerus melatih siswa dengan mematikan
karakteristik dan bakat terpendam siswa. Sistem pendidikan di Indonesia hanya
membunuh karakter siswa lihat saja siswa yang baru masuk sekolah begitu riang
dan gembira akan tetapi setelah masuk sekolah dan menerima berbagai pelajaran,
dirinya mulai bosan dan ingin segera keluar dari sekolah. Karena ada yang
terbunuh dari jiwanya yaitu kebebasannya dalam mengembangkan bakat dasar yang
dia bawa sejak lahir.Jika siswa terbiasa terkekang dan takut dengan berbagai
ancaman maka wajar saja kelak dirinya menjadi pengangguran karena
kreativitasnya telah lama terpasung dan terbiasa bergantung serta lebih senang
mencari kerja dari pada menciptakan lapangan kerja padahal lapangan kerja
semakin terbatas.
Tingkat Kesehatan
Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh
faktor-faktor lingkungan, perilaku kesehatan, pelayanan kesehatan dan
kependudukan. Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator untuk mengukur
derajat kesehatan masyarakat. Meskipun angka kematian bayi di Indonesia
menunjukkan penurunan yang sangat signifikan sebagai dampak pelaksanaan
pembangunan di segala bidang, termasuk intervensi program kesehatan yang sangat
intensif dilaksanakan di seluruh pelosok tanah air, namun dengan terjadinya
krisis ekonomi yang dimulai pada pertengahan tahun 1997 dapat dipastikan bahwa
angka kematian bayi dapat meningkat kembali sejalan dengan meningkatnya
prevelensi balita kekurangan energi dan protein. Pembangunan di bidang
kesehatan merupakan bagian dari investasi yang perlu diperhatikan dan
keberhasilan di bidang tersebut akan memberikan andil dalam mempercepat
pembangunan nasional.
Tingkat
kesehatan suatu negara umumnya dilihat dari besar kecilnya angka kematian,
karena kematian erat kaitannya dengan kualitas kesehatan.
Kualitas kesehatan yang rendah
umumnya disebabkan:
- Kurangnya sarana dan pelayanan kesehatan.
- Kurangnya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
- Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan.
- Gizi yang rendah.
- Penyakit menular.
- Lingkungan yang tidak sehat (lingkungan kumuh).
Dampak rendahnya tingkat kesehatan
terhadap pembangunan adalah terhambatnya pembangunan fisik karena perhatian
tercurah pada perbaikan kesehatan yang lebih utama karena menyangkut jiwa
manusia. Selain itu, jika tingkat kesehatan manusia sebagai objek dan subjek
pembangunan rendah, maka dalam melakukan apa pun khususnya pada saat bekerja,
hasilnya pun akan tidak optimal.
Untuk menanggulangi masalah
kesehatan ini, pemerintah mengambil beberapa tindakan untuk meningkatkan mutu
kesehatan masyarakat, sehingga dapat mendukung lancarnya pelaksanaan
pembangunan. Upaya-upaya tersebut di antarnya:
- Mengadakan perbaikan gizi masyarakat.
- Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.
- Penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan.
- Membangun sarana-sarana kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, dan lain-lain.
- Mengadakan program pengadaan dan pengawasan obat dan makanan.
- Mengadakan penyuluhan tentang kesehatan gizi dan kebersihan lingkungan.
Tingkat
penghasilan/pendapatan
Tingkat
penghasilan/pendapatan suatu negara biasanya diukur dari pendapatan per kapita,
yaitu jumlah pendapatan rata-rata penduduk dalam suatu negara. Negara-negara
berkembang umumnya mempunyai pendapatan per kapita rendah, hal ini disebabkan
oleh:
- Pendidikan masyarakat rendah, tidak banyak tenaga ahli, dan lain-lain.
- Jumlah penduduk banyak.
- Besarnya angka ketergantungan.
Berdasarkan
pendapatan per kapitanya, negara digolongkan menjadi 3, yaitu:
- Negara kaya, pendapatan per kapitanya > US$ 1.000.
- Negara sedang, pendapatan per kapitanya = US$ 300 – 1.00.
- Negara miskin, pendapatan per kapitanya < US$ 300.
Adapun dampak
rendahnya tingkat pendapatan penduduk terhadap pembangunan adalah:
- Rendahnya daya beli masyarakat menyebabkan pembangunan bidang ekonomi kurang berkembang baik.
- Tingkat kesejahteraan masyarakat rendah menyebabkan hasil pembangunan hanya banyak dinikmati kelompok masyarakat kelas sosial menengah ke atas.
Untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat (kesejahteraan masyarakat), sehingga dapat
mendukung lancarnya pelaksanaan pembangunan pemerintah melakukan upaya dalam
bentuk:
- Menekan laju pertumbuhan penduduk.
- Merangsang kemauan berwiraswasta.
- Menggiatkan usaha kerajinan rumah tangga/industrialisasi.
- Memperluas kesempatan kerja.
- Meningkatkan GNP dengan cara meningkatkan barang dan jasa.
Minimnya Lapangan Pekerjaan dan Pengangguran
Orang tidak bekerja alias pengangguran
merupakan masalah bangsa yang tidak pernah selesai. Ada tiga hambatan yang
menjadi alasan kenapa orang tidak bekerja, yaitu hambatan kultural, kurikulum
sekolah, dan pasar kerja. Hambatan kultural yang dimaksud adalah menyangkut
budaya dan etos kerja. Sementara yang menjadi masalah dari kurikulum sekolah
adalah belum adanya standar baku kurikulum pengajaran di sekolah yang mampu
menciptakan dan mengembangkan kemandirian SDM yang sesuai dengan kebutuhan
dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar kerja lebih disebabkan oleh rendahnya
kualitas SDM yang ada untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.
Ekonomi abad ke-21, yang ditandai dengan
globalisasi ekonomi, merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan,
di mana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin
terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi yang
sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya
saing dalam dunia usaha.
Masalah daya saing dalam pasar dunia
yang semakin terbuka merupakan isu kunci dan tantangan yang tidak ringan. Tanpa
dibekali kemampuan dan keunggulan saing yang tinggi niscaya produk suatu
negara, termasuk produk Indonesia,tidak akan mampu menembus pasar
internasional. Bahkan masuknya produk impor dapat mengancam posisi pasar
domestik. Dengan kata lain, dalam pasar yang bersaing, keunggulan kompetitif
merupakan faktor yang berpengaruh dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Oleh
karena itu, upaya meningkatkan daya saing dan membangun keunggulan kompetitif
bagi produk Indonesia tidak dapat ditunda-tunda lagi dan sudah selayaknya
menjadi perhatian berbagai kalangan, bukan saja bagi para pelaku bisnis itu
sendiri tetapi juga bagi aparat birokrasi, berbagai organisasi dan anggota
masyarakat yang merupakan lingkungan kerja dari bisnis corporate (kerjasama).
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi
tuntutan globalisasi seyogyanya kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan
sistem pendidikan perlu dirubah.Hubungan antara pendidikan dengan dunia kerja
mutlak diperlukan.Siswa butuh praktek lapangan bukan hanya duduk diam dan
mendengarkan serta diberi test tulis yang amat membosankan tapi berilah soal
dunia nyata agar kreativitas dan pikiran bawah sadarnya dapat optimal serta
terlatih. Namun sayang sistem pendidikan diIndonesia hanya menitik beratkan
pada test tulis terbukti pada peningkatan standart kelulusan pada UAN atau UNAS
tiap tahunnya. Padahal jika dilihat lebih lanjut kebijakan tersebut merupakan
kebijakan terbodoh yang pernah ada. Karena hal tersebut hanya membuat siswa
terpaksa belajar hanya untuk meraih nilai standar bukan untuk melatih skill
yang dirinya butuhkan untuk menghadapi tantangan persaingan global padahal yang
dibutuhkan sekarang bukan nilai akademik yang tertulis tapi skill yang
benar-benar dikuasai dan dipraktekkan didunia nyata maka wajar saja jika
Indonesia masih minim sumberdaya manusia yang benar-benar memiliki keahlian
dibidangnya sebaliknya angka pengangguran terus meningkat.
Di Indonesia terjadi ketimpangan
antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja dimana tentunya
lapangan pekerjaan yang jauh lebih sedikit dibandingkan para pencari kerjanya. Selain
itu kondisi ini juga diperparah dengan tingkat pendidikan angkatan kerja yang
ada masih relatif rendah dimana stuktur pendidikan angkatan kerja di Indonesia
masih didominasi pendidikan dasar hampir lebih dari 50%. Lesunya dunia usaha
akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini
mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi
hal inilah yang membuat angka pengangguran sarjana makin tinggi. Karena
begitu banyaknya lulusan perguruan tinggi tiap tahunnya tidak diimbangi dengan
lapangan kerja yang memadai.
Pengaturan Sumber Daya Manusia adalah sangat sulit dan
kompleks. Manusia mempunyai pikiran, perasaan, status, keinginan, latar
belakang sosial budaya dan sebagainya yang bervariasi dan sering terbawa serta
ke dalam unit kerja/ organiasi.
Jumlah penduduk yang besar adalah merupakan salah satu
modal dasar pembagunan nasional, tetapi penduduk yang tidak memiliki kemauan
dan kemampuan untuk bekerja akan menimbulkan masalah di dalam pembangunan
nasional. Hampir setiap Negara mengalami masalah di dalam menangani masalah pengangguran.
Penyebab timbulnya pengangguran adalah :
·
Tidak dimilikinya pendidikan yang memadai
·
Tidak dimiliki bekal keterampilan untuk dapat
melakukan aktifitas pekerjaan
Masalah-masalah yang akan timbul dari pengangguran :
·
Adanya kesenjangan sosial
·
Adanya kerawanan sosial
Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang
berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja
terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan
kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada
sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang
terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin banyak
angka pengangguran sarjana di Indonesia.
Pendidikan
memang merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia.
Dengan pendidikan dapat ditingkatkan pengetahuan dan ketrampilan yang
selanjutnya akan berdampak pada peningkatan produktivitas.
Pendidikan
dapat pula dilihat sebagai investasi sumberdaya manusia dan hasilnya akan
diperoleh beberapa tahun kemudian (Tjiptoherijanto P, 1996). Namun, peningkatan
mutu pendidikan yang tidak diimbangi dengan tersedianya lapangan pekerjaan akan
menimbulkan permasalahan baru. Walaupun saat ini ada kecenderungan bahwa
sarjana lulusan perguruan tinggi lebih banyak yang menganggur daripada bekerja.
Hal, ini terutama disebabkan terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia,
padahal penduduk yang lulus perguruan tinggi setiap tahunnya selalu bertambah.
Sebagai akibatnya banyak diantara para sarjana yang bekerja pada bidang yang
bukan keahliannya. Hal ini terpaksa dilakukannya dengan pertimbangan daripada
menganggur.
Oleh
karena itu, setiap dalam mengenyam pendidikan seharusnya peserta didik
diberikan ketrampilan agar memiliki kemampuan untuk berwirausaha. Sehingga,
tidak bergantung pada instansi yang sudah didirikan orang lain maupun
pemerintah, akan tetapi dapat mendirikan
usaha sendiri sehingga juga dapat menarik tenaga kerja dan mengurangi
pengangguran.
Masalah SDM inilah yang menyebabkan
proses pembangunan yang berjalan selama ini kurang didukung oleh produktivitas
tenaga kerja yang memadai. Itu sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32
tahun dibanggakan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari
pemanfaatan sumberdaya alam intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal
asing berupa pinjaman dan investasi langsung. Dengan demikian, bukan berasal
dari kemampuan manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi. Keterpurukan
ekonomi nasional yang berkepanjangan hingga kini merupakan bukti kegagalan
pembangunan akibat dari rendahnya kualitas SDM dalam menghadapi persaingan
ekonomi global
Sekarang bukan saatnya lagi Indonesia
membangun perekonomian dengan kekuatan asing. Tapi sudah seharusnya bangsa
Indonesia secara benar dan tepat memanfaatkan potensi sumberdaya daya yang
dimiliki dengan kemampuan SDM yang tinggi sebagai kekuatan dalam membangun
perekonomian nasional.
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sumber daya manusia (SDM) merupakan seluruh kemampuan atau potensi penduduk
yang berada di dalam suatu wilayah tertentu beserta karakteristik atau ciri
demografis, sosial maupun ekonominya yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan
pembangunan. Jadi membahas sumber daya manusia berarti membahas penduduk dengan segala
potensi atau kemampuannya yang terdiri atas aspek kualitas dan kuantitas. Sumber daya manusia sebagai penduduk memiliki peran, antara lain sebagai
produsen, konsumen dan distributor.
Perkembangan penduduk yang cepat tidak selalu merupakan penghambat bagi jalannya
pembangunan ekonomi jika penduduk ini mempunyai kapasitas yang tinggi untuk
menghasilkan dan menyerap hasil produksi yang dihasilkan. Ini berarti tingkat
pertambahan penduduk yang tinggi disertai dengan tingkat penghasilan yang
tinggi pula. Jadi pertambahan penduduk dengan tingkat penghasilan yang redah
tidak ada gunanya bagi pembagunan ekonomi.
Dalam pencapaian pembangunan ekonomi nasional banyak
kendala yang dihadapi. Termasuk juga SDM yang ada juga mengalami kendala – kendala
dalam pengembangan pembangunan ekonomi nasional, diantaranya: tingkat
pendidikan, tingkat kesehatan, tingkat penghasilan/pendapatan, minimnya
lapangan pekerjaan dan pengangguran.
4.2 Saran
Hendaknya ada
kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan pembangunan
ekonomi, selain itu kebijakan yang diambil seharusnya disesuaikan dengan kondisi
geografis Indonesia, kondisi masyarakat dan permasalahan di Indonesia.
Selain peningkatan
kualitas, tingginya pertumbuhan perduduk di Indonesia dapat dimanfaatkan secara
efektif dan efisien dalam pembangunan ekonomi dengan cara meningkatkan mutu
pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan dan pengelolaan sumber daya alam
berkelanjutan.
DAFTAR
RUJUKAN
Anonim.2010.Hakekat dan Ruang Lingkup Geografi Ekonomi.pdf (diakses
pada tanggal 14 Januari 2014)
Arsyad, Lincolin. 2004. Ekonomi
Pembangunan. Yogakarta: Sekolah Tinggi Ekonomi YKPN.
Fauziah,
Puji Yanti.2005.Pendidikan Luar Sekolah
Dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Dalam Era Globalisasi.
Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Gomes, Faustino Cardos. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia.Yogyakarta: Penerbit Andi.
http://papaannisa.blogspot.com/p/peran-penduduk-dalam-pembangunan.html
(diakses pada tanggal 13 Februari 2014)
http://rahmatkusnadi6.blogspot.com/2010/10/permasalahan-kuantitas-dan-kualitas.html
(diakses pada tanggal 24 Februari 2014)
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/peranan-sumber-daya-manusia-di-indonesia/ (diakses pada tanggal 15 Februari 2014)
Irawan, M. Suparmoko. 1995. Ekonomi Pembangunan, Edisi Lima, Cetakan ke Empat.
Yogyakarta: Penerbit BPFE.
Kuncoro, Mudrajad. 1997. Ekonomi
Pembangunan, Teori, Masalah dan Kebijakan (Cetakan pertama). Yogyakarta: Unit penerbitan dan
percetakan akademi manajemen perusahaan YKPN.
Mathis dan Jackson. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Pertama, Cetakan Pertama.
Yogyakarta: Salemba Empat.
Sudarmi, S., Waluyo.
2008. Galeri Pengetahuan Sosial Terpadu. Semarang : PT Sindur Press.
Komentar
Posting Komentar