Cerpen: Kesetiaan dalam Penantian







Menanti, satu hal yang menurutku paling menjenuhkan apalagi untuk hal yang tak pasti. Namun, tidak ada yang dapat aku salahkan. Ini keputusanku dan setiap keputusan ada konsekuensi. Di sisi lain aku merasa senang, dalam penantian tak selalu menjemukan saat aku menikmatinya. Merasa terbebaskan dari ikatan yang kadang tak lagi dapat membuatku terbang.
***
Tok, tok, tok, kuketuk pintu rumahnya yang sudah terbuka. Sosoknya bergegas keluar dari kamarnya untuk  melihat kedatanganku.

"Oh, kamu ternyata. Aku kira siapa?" Aku hanya tersenyum dan ia mempersilakan aku duduk.

"Bentar ya, aku mau lanjutin main game dulu." Ia kembali ke kamarnya yang tepat berada di depan tempat aku duduk. Aku menantinya sekian menit.

"Terus aku datang ke sini kamu cuekin, gitu?"

"Enggak. Sebentar lagi selesai kok," sahutnya dari dalam kamar. Aku kembali terdiam dan menunggunya.
Setelah sekian menit kemudian, ia keluar dari kamar dan duduk cukup jauh dariku.

"Ngapain kamu ke sini?"

"Emangnya kenapa? Enggak boleh?"

"Habisnya kemarin SMSku enggak kamu balas. Teleponku enggak kamu angkat," kataku lagi.

"Ya... enggak pa-pa sih. Aku kemarin main game." Dengan santainya ia menjawab seperti itu tanpa berpikir bahwa aku menghawatirkannya. Sesekali ia tertawa renyah.

 Berbincang ringan dengannya salah satu hal yang menyenangkan bagiku. Sebab tak pernah kubayangkan sebelumnya dapat sedekat ini dengannya, bersamanya. Kukira sejak kejadian waktu itu aku tak akan lagi dapat mengenalnya lebih jauh, mungkin ia akan membenciku. Namun, tidak seperti itu. Semua berjalan seperti seolah tak ada yang menyakitkan di antara kita.
***
Ketika itu....

"Aku boleh ngomong sesuatu enggak?" tanyanya padaku yang tengah duduk di sampingnya dan sedang asyik melahap ice cream.

Aku menoleh ke arahnya dan berucap,"Tentu saja. Emangnya kamu mau ngomong apa, sih?"

"Aku sebenarnya sayang sama kamu."Aku tertawa.

"Kamu bercanda, ya?"

"Enggak, aku serius!"

"Udah ah, kenapa jadi gini, sih? Sampai kapanpun kita akan tetap jadi teman." Ia tertunduk, mungkin begitu kecewa dengan ucapanku.

"Teman? Berarti jadi teman hidupmu juga bisa?" Ia tersenyum simpul.

"Hahaha... mungkin."


Ia kembali tertunduk. Waktu itu aku tak menyadari seperti apa sayang itu, cinta itu, sanyangnya, cintanya. Aku hanya menganggapnya sebagai lelucon biasa, walau kini kadang aku merasa sedikit kecewa dengan diriku sendiri. Namun, aku masih berani berharap bahwa ia akan kumiliki sebagai teman, bukan teman biasa tapi teman hidup untuk selamanya.
***
Sampai suatu hari aku tersadar....

"Kamu masih sayang sama aku?" bibirku tiba-tiba berucap seperti itu di hadapannya. Entah saat itu apa yang terjadi denganku.

"Emmm... enggak tau. Aku enggak mau mikir cinta-cinta lagi untuk saat ini. Aku mau meraih kesuksesanku dulu."
Ketika aku berharap ia mengiyakan pertanyaanku justru seperti itu jawabannya. Apa ia terlampau sakit karenaku? Beberapa kali kutanya hanya begitu dan tetap begitu jawabnya. Ia belum berubah pikiran. Rasanya aku tak ingin menanyakannya lagi.

"Kamu enggak usah nunggu aku!" Kenapa tiba-tiba ia berkata seperti itu?

"Kenapa?"
"Ya... enggak pa-pa."

"Jawab dong! Kenapa?"

"Aku besok mau berangkat ke Bekasi. Semua serba mendadak, aku baru dapat kabarnya juga tadi." Aku hanya terdiam. Berapa lama ia akan berada di sana? Lalu kapan akan pulang?

"Berapa lama kamu di sana?"

"Mungkin 2 tahun tapi belum ada kepastian."

Kurelakan saja ia pergi, memang tak akan ada lagi tawa dan canda yang kutemui tapi ini pilihannya. Mungkin sekembalinya dari sana ia kan menjawab semua tanyaku. Aku akan merindukannya. Aku dan dia memiliki mimpi masing-masing dan berjalan di jalan masing-masing. Harapku suaru saat nanti aku dan dia dapat bertemu di jalan yang sama dan akan melanjutkan perjalanan bersama-sama. Aku tak ingin berpikir terlalu jauh berapa lama aku harus menunggunya kembali. Aku hanya bisa menjalani pilihanku untuk meraih mimpiku.
***


 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM HANDASAH ACARA I PENGENALAN ALAT

Let's Talk About Love

MAKALAH : KONTRIBUSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA DIKAJI DARI GEOGRAFI EKONOMI