Ceritaku: Diary
Perjalananku berawal dari sebuah pabrik pebuatan kertas dan aku dibuat dari lembar-lembar kertas itu lalu dijilid menjadi satu. Proses demi proses kulalui sampai aku diangkut dan tiba di sebuah toko sederhana yang menjualku. Beberapa minggu aku berdiam diri di etalase. Mungkin butuh waktu yang lebih lama lagi untuk menunggu seseorang akan membeliku.
Suatu ketika seorang gadis mengambilku. Senang rasanya tidak lagi di etalase itu. Gadis itu meletakkanku di keranjang sepedanya dan membawaku pulang. Kukira diusia remajanya aku adalah diary pertamanya tapi ternyata tidak. Dia sudah memiliki beberapa diary yang penuh dengan tulisannya. Ia membuka lembar demi lebar.
"Faychan!" seseorang berteriak memanggilnya.
"Iya, sebentar!" jawabnya, lalu ia meninggalkanku begitu saja di atas mejanya. Cukup lama ia meninggalkanku baru menjelang senja ia kembali ke kamarnya.
Aku disisihkannya bersama beberapa buku di meja itu. Kemudian ia mengambil salah satu buku pelajaran dan membacanya. Ia memakai ear phone dan memutar lagu keras-keras. Tampaknya ia begitu bersemangat. Dia memang begitu saat belajar atau sedang jenuh. Seusai ia belajar, jarum jam menunjukkan pukul 8 malam. Lalu ia menutup buku pelajarannya dan mengambil sebuah bolpoin. Ia menulis banyak kata di lembar pertamaku.
Bagaimana perasaanmu ketika seseorang yang kau kagumi telah memiliki kekasih? Hmmm... itu memang hak setiap orang, lagi pula dia tak pernah tahu mungkin juga tak mau tahu ada seseorang yang mengaguminya. Kurasa ini akan segera membaik. Dia bukan satu-satunya orang yang pantas untuk dikagumi. Masih banyak orang yang lebih pantas darinya dan lebih mengagumkan. Aku selalu berusaha tampak biasa di depannya. Memang bagi orang lain mungkin ia sosok yang biasa saja tapi aku melihatnya dari sisi yang berbeda.
Waktu itu sebelum aku mengenalnya, ia tiba-tiba datang seperti pangeran. Dalam gerimis itu pertama kali aku bertemu dan sedekat itu dengannya. Aku tahu dia salah seorang seniorku. Ahhh... sudahlah!! Aku hanya sebatas mengagumi kebaikannya dan tidak lebih!!
Faychan tidak suka menyebut nama seseorang dengan jelas dalam setiap tulisannya. Aku tidak tahu siapa senior yang dianggapnya pangeran itu. Hanya satu kali saja ia menulis tentang pangeran itu, selanjutnya tidak pernah lagi.
Aku bahagia dimilikinya, gadis yang selalu terlihat ceria itu selalu membawaku di dalam tasnya. Ia tidak pernah meninggalkanku sendirian. Banyak kejadian-kejadian yang ia rangkum dalam tulisannya, sesekali ia menggambar sesuatu yang kurang jelas atau aku yang tidak tahu maksudnya.
Apa setiap orang akan merasakan jatuh cinta? Mungkin iya. Tapi, cinta itu tidak selalu tepat sasaran. Sampai-sampai membuat sesak dan tersiksa. Aku membencinya! Orang dewasa yang menyebalkan itu. Sedangkan aku hanya selalu dianggapnya anak kecil. Apa nanti kalau aku sudah dewasa akan seperti itu? Ah... jangan sampai. Aku tidak suka.
Jatuh cinta untuk pertama kali itu tidak selau menyenangkan. Aku tak tahu mengapa ia bisa membuatku berharap begitu jauh hingga aku terjatuh dan teramat sakit kurasa. Anak laki-laki itu selalu merasa lebih dewas dariku, sampai-sampai setiap ada masalah denganku seolah dia dapat menyelesaikannya sendiri. Ya, memang ia lebih tua dariku tapi tidak sepatutnya menganggapku begitu. Dia... harapan kosong!
Aku merasa iba melihat gadis itu meneteskan air mata di atas tulisannya, hanya beberapa tetes, tak banyak, lalu ia segera menghapusnya.

"Hah! buat apa aku menangis hanya untuk seseorang seperti dia?! Memalukan!" ujarnya seorang diri, seolah ia memberi peringatan pada dirinya.
Cukup lama ia berkutat pada kesedihan itu. Namun, ia seseorang yang menyenangkan dan unik bagiku. Caranya memberi semangat pada diri sendiri dan kadang ia tampak aneh. Menutupi kesedihan, kepedihan hatinya dengan begitu cepat. Terkadang masih saja kudapati ia menangis tapi tidak pernah bersuara.
Kisah cinta pertamanya begitu menyesakkan. Aku tak banyak membantu, hanya menampung air matanya yang meresap dalam pori-pori di lembar-lembar tubuhku. Menyaksikan begitu banyak huruf yang ditulisnya. Sesekali ia tampak begitu bahagia saat telah melalui petualangan bersama teman-temannya di sekolah, kadang ia merasa kesepian.
Lembar-lembarku telah habis. Banyak kisah dari gadis itu yang kulalui dan aku juga merasakan. Betapa senangnya saat melihatnya kini bahagia dengan seseorang yang baru dan aku akan berganti dengan diary yang baru juga.
Suatu ketika seorang gadis mengambilku. Senang rasanya tidak lagi di etalase itu. Gadis itu meletakkanku di keranjang sepedanya dan membawaku pulang. Kukira diusia remajanya aku adalah diary pertamanya tapi ternyata tidak. Dia sudah memiliki beberapa diary yang penuh dengan tulisannya. Ia membuka lembar demi lebar.
"Faychan!" seseorang berteriak memanggilnya.
"Iya, sebentar!" jawabnya, lalu ia meninggalkanku begitu saja di atas mejanya. Cukup lama ia meninggalkanku baru menjelang senja ia kembali ke kamarnya.
Aku disisihkannya bersama beberapa buku di meja itu. Kemudian ia mengambil salah satu buku pelajaran dan membacanya. Ia memakai ear phone dan memutar lagu keras-keras. Tampaknya ia begitu bersemangat. Dia memang begitu saat belajar atau sedang jenuh. Seusai ia belajar, jarum jam menunjukkan pukul 8 malam. Lalu ia menutup buku pelajarannya dan mengambil sebuah bolpoin. Ia menulis banyak kata di lembar pertamaku.
Bagaimana perasaanmu ketika seseorang yang kau kagumi telah memiliki kekasih? Hmmm... itu memang hak setiap orang, lagi pula dia tak pernah tahu mungkin juga tak mau tahu ada seseorang yang mengaguminya. Kurasa ini akan segera membaik. Dia bukan satu-satunya orang yang pantas untuk dikagumi. Masih banyak orang yang lebih pantas darinya dan lebih mengagumkan. Aku selalu berusaha tampak biasa di depannya. Memang bagi orang lain mungkin ia sosok yang biasa saja tapi aku melihatnya dari sisi yang berbeda.
Waktu itu sebelum aku mengenalnya, ia tiba-tiba datang seperti pangeran. Dalam gerimis itu pertama kali aku bertemu dan sedekat itu dengannya. Aku tahu dia salah seorang seniorku. Ahhh... sudahlah!! Aku hanya sebatas mengagumi kebaikannya dan tidak lebih!!
Faychan tidak suka menyebut nama seseorang dengan jelas dalam setiap tulisannya. Aku tidak tahu siapa senior yang dianggapnya pangeran itu. Hanya satu kali saja ia menulis tentang pangeran itu, selanjutnya tidak pernah lagi.
Aku bahagia dimilikinya, gadis yang selalu terlihat ceria itu selalu membawaku di dalam tasnya. Ia tidak pernah meninggalkanku sendirian. Banyak kejadian-kejadian yang ia rangkum dalam tulisannya, sesekali ia menggambar sesuatu yang kurang jelas atau aku yang tidak tahu maksudnya.
Apa setiap orang akan merasakan jatuh cinta? Mungkin iya. Tapi, cinta itu tidak selalu tepat sasaran. Sampai-sampai membuat sesak dan tersiksa. Aku membencinya! Orang dewasa yang menyebalkan itu. Sedangkan aku hanya selalu dianggapnya anak kecil. Apa nanti kalau aku sudah dewasa akan seperti itu? Ah... jangan sampai. Aku tidak suka.
Jatuh cinta untuk pertama kali itu tidak selau menyenangkan. Aku tak tahu mengapa ia bisa membuatku berharap begitu jauh hingga aku terjatuh dan teramat sakit kurasa. Anak laki-laki itu selalu merasa lebih dewas dariku, sampai-sampai setiap ada masalah denganku seolah dia dapat menyelesaikannya sendiri. Ya, memang ia lebih tua dariku tapi tidak sepatutnya menganggapku begitu. Dia... harapan kosong!
Aku merasa iba melihat gadis itu meneteskan air mata di atas tulisannya, hanya beberapa tetes, tak banyak, lalu ia segera menghapusnya.
"Hah! buat apa aku menangis hanya untuk seseorang seperti dia?! Memalukan!" ujarnya seorang diri, seolah ia memberi peringatan pada dirinya.
Cukup lama ia berkutat pada kesedihan itu. Namun, ia seseorang yang menyenangkan dan unik bagiku. Caranya memberi semangat pada diri sendiri dan kadang ia tampak aneh. Menutupi kesedihan, kepedihan hatinya dengan begitu cepat. Terkadang masih saja kudapati ia menangis tapi tidak pernah bersuara.
Kisah cinta pertamanya begitu menyesakkan. Aku tak banyak membantu, hanya menampung air matanya yang meresap dalam pori-pori di lembar-lembar tubuhku. Menyaksikan begitu banyak huruf yang ditulisnya. Sesekali ia tampak begitu bahagia saat telah melalui petualangan bersama teman-temannya di sekolah, kadang ia merasa kesepian.
Lembar-lembarku telah habis. Banyak kisah dari gadis itu yang kulalui dan aku juga merasakan. Betapa senangnya saat melihatnya kini bahagia dengan seseorang yang baru dan aku akan berganti dengan diary yang baru juga.
Komentar
Posting Komentar