Makalah Kemiskinan (Demografi)
MAKALAH
MASALAH KEMISKINAN PENDUDUK DI INDONESIA
Untuk memenuhi tugas matakuliah Geografi Penduduk dan
Tenaga Kerja

Dosen Pembimbing:
Dr. Budijanto, M.Sos
Oleh:
Alistiqomah (130722607356)
Fatma Roisatin N. (130722616093)
Hanri Bawafi (130722607384)
Mohammad Arif O. (130722616072)
Offering: H
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
NOPEMBER 2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan makalah dengan judul Masalah Kemiskinan Penduduk Di
Indonesia.
Keberhasilan penulis dalam menyusun karya tulis ilmiah
ini tentunya tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, tidak
lupa penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Dr. Budijanto, M.Sos, selaku Dosen
Pembimbing matakuliah Geografi Penduduk dan Tenaga Kerja,
2. Orang tua penulis yang telah
banyak memberi dukungan baik moril maupun materiil,
3. Serta pihak-pihak yang tidak dapat
kami sebutkan satu per satu.
Akhir kata, karya penulis ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu kami senantiasa menampung kritik dan saran untuk menghasilkan
karya yang lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita dan dapat
menambah wawasan serta kepekaan kita mengenai keadaan yang terjadi di
masyarakat.
Malang, Nopember 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul……………………………………………………………………………….1
Kata Pengantar ……………………………………………………………………………...2
Daftar Isi ………………………………………………………………………………… ….3
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………... ...4
1.1 Latar Belakang
………………………………………………………………… ..4
1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………………………..4
1.3 Tujuan ………………………………………………………………..
……….....4
BAB II LADASAN TEORI …………………………………………………….. …………5
2.1 Pengertian
Kemiskinan……………………………………………………………5
2.2 Teori
Kemiskinan………………………………………………………………....6
2.3 Jenis-jenis kemiskinan…………………………………………………………...12
BAB III PEMBAHASAN ………………………………………………………………….22
3.1
Hakikat Kemiskinan…………………………………………………………..….22
3.2
Faktor Penyebab Kemiskinan di Indonesia……………………………………...22
3.3
Ukuran Kemiskinan……………………………………………………………...25
3.4
Solusi untuk Menghadapi Kemiskinan…………………………………………..26
3.4.1
Kebijakan yang Diambil Pemerintah…………………………………..26
3.4.2
Solusi Alternatif Pengantasan Kemiskinan…………………………….27
BAB IV PENUTUP ………………………………………………………………..............36
4.1 Kesimpulan ……………………………………………………………………...36
4.2
Saran ……………………………………………………………………………..37
Daftar
Pustaka .......................................................................................................................38
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Indonesia merupakan salah satu
negara yang memiliki wilayah yang luas dan padat penduduk. Secara fisiografis
dan geografis, Indonesia merupakan negara yang seharusnya makmur dan strategis.
Sebab, berada di daerah tropis yang memiliki tanah subur dan kaya sumber daya
alam. Selain itu juga memiliki wilayah laut yang luas dan dapat dimanfaatkan
sebagai sarana transportasi laut yang menguntungkan. Namun, berbagai faktor
yang menyebabkan hal tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan kemiskinan masih menjadi masalah
yang harus dihadapi bangsa Indonesia. Kemiskinan di Indonesia merupakan salah
satu masalah yang harus segera diselesaikan. Sebab, berpengaruh pada berbagai
aspek termasuk lingkungan dan aspek sosial.
Kemiskinan merupakan salah satu
gambaran bahwa penduduk di Indonesia belum sejahtera. Sedangkan kesejahteraan
rakyat merupakan salah satu tujuan hidup bangsa Indonesia yang termaktub dalam
Pancasila. Oleh karena itu, masalah kemiskinan di Indonesia secepatnya harus
diselesaikan atau setidaknya dikurangi.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan
kemiskinan?
2. Apa yang menjadi ukuran
kemiskinan?
3. Apa faktor penyebab kemiskinan di
Indonesia?
4. Bagaimana solusi untuk menghadapi
kemiskinan di Indonesia?
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami hakikat
kemiskinan.
2. Mahasiswa mampu memahami ukuran
kemiskinan.
3. Mahasiswa mampu mengetahui dan
memahami penyebab kemiskinan di Indonesia.
4. Mahasiswa mampu memahami dan
menerapkan solusi untuk menghadapi kemiskinan di Indonesia.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah tidak hanya
terpenuhinya makanan dasar, perlindungan, perawatan medis, pengamanan,
kebiasaan berpikir yang dilandaskan pada nilai kebebasan manusia.
akan tetapi, lebih luas dikatakan bahwa sesungguhnya, kemiskinan adalah keadaan
memaksakan kehendak kepada orang lain.
Kemiskinan dapat diartikan
pencabuatan penghubung. ”sosial (definisi penghubung) dan kemiskinan juga
didasarkan pada budaya lokal ketika menghendaki menyelesaikan problem lokal.
Menurut wikipedia
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk
dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air minum, hal-hal
ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan kadang juga berarti
tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi
masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.
Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara
subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan
evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah
mapan. Istilah "negara berkembang" biasanya digunakan untuk merujuk
kepada negara-negara yang "miskin".
Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat berpendapatan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan (poverty line) merupakan dua masalah besar di banyak negara-negara berkembang (LDCs), tidak terkecuali di Indonesia.
Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat berpendapatan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan (poverty line) merupakan dua masalah besar di banyak negara-negara berkembang (LDCs), tidak terkecuali di Indonesia.
Definisi kemiskinan sering
dihubugkan dengan konsep keluarga, penyandang dana, pengurusan pajak-pajak, dan
hak sebagai hasil dari upaya kerja.
Kemiskinan adalah ketidakadaan yaitu
seseorang yang tidak mempunyai perlindungan, makanan, kesehatan, dan
keselamatan. Ini terlepas apakah miskin karena
faktor internal maupun faktor eksternal, untuk melihat kemiskinan didunia
sampai tingkat domistik kami paparkan beberapa data tentang kemiskinan
sebagai berikut:
Ukuran-ukuran Kemiskinan,
berdasarkan Biro Pusat Statistik BPS menentukan seorang disebut miskin
manakala mendapatkan (2100 kalori per hari). Sayogyo mengukur dengan 1 kg beras per hari. Sedangkan World Bank ($1 per hari). Ukuran di Amerika disebut miskin
manakala pendapanya $ 17.050 atau lebih dari 150.000 rupiah.
2.2 Teori
Kemiskinan
Pada dasarnya,
kemiskinan merupakan persoalan klasik yang telah ada sejak umat manusia ada.
Kemiskinan merupakan persoalan kompleks, berwajah banyak, dan tampaknya akan
terus menjadi persoalan aktual dari masa ke masa. Meskipun sampai saat ini
belum ditemukan suatu rumusan ataupun formula penanganan kemiskinan yang
dianggap paling berdayaguna, signifikan, dan relevan, pengkajian konsep dan strategi penanganan
kemiskinan harus terus menerus diupayakan. Pengupayaan tersebut tentu sangat
berarti hingga kemiskinan tidak lagi menjadi masalah dalam kehidupan manusia.
Seperti
diketahui, terdapat banyak teori dan pendekatan dalam memahami kemiskinan.
Namun jika disederhanakan, setidaknya dalam untuk keperluan penelitian ini,
maka terdapat dua paradigma atau teori besar (grand theory)
mengenai kemiskinan: yakni paradigma neo-liberal dan sosial demokrat. Kedua
paradigama tersebut pertama yang memandang kemiskinan dari kacamata struktural,
dan yang kedua secara individual. Pandangan ini kemudian menjadi basis dalam
menganalisis kemiskinan ataupun dalam merumuskan kebijakan dan program-program
yang berusaha mengatasi kemiskinan.
1. Teori Neo-Liberal;
Shannon,
Spicker, Cheyne, O’Brien dan Belgrave mengatakan bahwa kemiskinan merupakan
persoalan individu yang bersangkutan. Kemiskinan akan hilang jika pertumbuhan
ekonomi dipacu setinggi-tingginya. Ini berarti strategi penanggulangan
kemiskinan bersifat “residual” sementara, yang melibatkan keluarga, kelompok
swadaya atau lembaga keagamaan. Negara akan turut campur ketika lembaga-lembaga
di atas tidak lagi mampu menjalankan tugasnya. Penerapan Jaminan Pengaman
Sosial (JPS) di Indonesia adalah contoh nyata pengaruh teori ini.
Teori
neo-liberal berakar pada karya politik klasik yang ditulis oleh Thomas Hobbes,
John Lock dan John Stuart Mill yang intinya menyerukan bahwa komponen
penting dari sebuah masyarakat adalah kebebasan individu. Dalam bidang ekonomi,
karya monumental Adam Smith, the Wealth of Nation (1776), dan Frederick
Hayek, The Road to Serfdom (1944), dipandang sebagai
rujukan kaum neo-liberal yang mengedepankan azas laissez faire, yang oleh Cheyne, O’Brien dan Belgrave
(1998) disebut sebagai ide yang mengunggulkan “mekanisme pasar bebas” dan
mengusulkan “the almost complete absence of state’s intervention in
the economy.” Secara garis besar, para pendukung neo-liberal berargumen bahwa
kemiskinan merupakan persoalan individual yang disebabkan oleh
kelemahan-kelemahan dan/atau pilihan-pilihan individu yang bersangkutan.
Kemiskinan akan hilang dengan sendirinya jika kekuatan-kekuatan pasar diperluas
sebesar-besarnya dan prtumbuhan ekonomi dipacu setinggi-tingginya. Secara
langsung, strategi penaggulangan kemiskinan harus bersifat “residual”,
sementara, dan hanya melibatkan keluarga, kelompok-kelompok swadaya atau
lembaga-lembaga keagamaan. Peran negara hanyalah sebagai “penjaga malam” yang
baru boleh ikut campur manakala lembaga-lembaga di atas tidak mampu lagi
menjalankan tugasnya (Spicker, 1995; Cheyne, O’Brien dan Belgrave, 1998).
Penerapan program-program structural adjustment, seperti Program
Jaringan Pengaman Sosial atau JPS, di beberapa negara merupakan contoh kongkrit
dari pengaruh neo-liberal dalam bidang penanggulangan kemiskinan ini.
Akan tetapi,
keyakinan yang berlebihan tehadap keunggulan mekanisme pasar dan pertumbuhan
ekonomi yang secara alamiah dianggap akan mampu mengatasi kemiskinan dan
ketidakdilan sosial mendapat kritik dari kaum sosial demokrat. Pendukung sosial
demokrat menyatakan bahwa “a free market did not lead to greater social wealth,
but to greater poverty and exploitation…a society is just when people’s needs are
met, and when inequality and exploitation in economic and social relations are
eliminated” (Cheyne, O’Brien dan Belgrave, 1998).
2. Teori Demokrasi Sosial;
Teori ini
memandang bahwa kemiskinan bukanlah persoalan individu, melainkan struktural.
Kemiskinan disebabkan oleh adanya ketidakadilan dan ketimpangan dalam
masyarakat akibat tersumbatnya akses kelompok kepada sumber-sumber
kemasyarakatan. Teori Demokrasi Sosial menekankan pentingnya manajemen dan
pendanaan negara dalam pemberian pelayanan sosial dasar (pendidikan, kesehatan,
perumahan, dan jaminan sosial) bagi seluruh warga negara. Karena meskipun teori
ini tidak anti sistem ekonomi kapitalis, namun merasa perlu ada sistem negara
yang mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Teori sosial
demokrat memandang bahwa kemiskinan bukanlah persoalan individual, melainkan
struktural. Kemiskinan disebabkan oleh adanya ketidakadilan dan ketimpangan
dalam masyarakat akibat tersumbatnya akses-akses kelompok tertentu terhadap
berbagai sumber-sumber kemasyarakatan. Teori yang berporos pada prinsip-prinsip
ekonomi campuran ini muncul sebagai jawaban terhadap depresi ekonomi yang
terjadi pada tahun 1920-an dan awal 1930-an. Sistem negara kesejahteraan yang
menekankan pentingnya manajemen dan pendanaan negara dalam pemberian pelayanan
sosial dasar, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan dan jaminan sosial,
sangat dipengaruhi oleh pendekatan “ekonomi manajemen-permintaan” (demand-management economics) gaya
Keynesian ini.
Meskipun tidak
setuju sepenuhnya terhadap sistem pasar bebas, kaum sosial demokrat tidak
memandang sistem ekonomi kapitalis sebagai evil. Bahkan kapitalis masih
dipandang sebagai bentuk pengorganisasian ekonomi yang paling efektif. Hanya
saja, kapitalisme perlu dilengkapi dengan sistem negara kesejahteraan agar
lebih berwajah manusiawi. “The welfare state acts as the human face of
capitalism,” demikian menurut Cheyne, O’Brien dan Belgrave, (1998).
Pendukung
sosial demokrat berpendapat bahwa kesetaraan merupakan prasyarat penting dalam
memperoleh kemandirian dan kebebasan. Pencapaian kebebasan hanya dimungkinkan
jika setiap orang memiliki atau mampu menjangkau sumber-sumber, seperti
pendidikian, kesehatan yang baik dan pendapatan yang cukup. Kebebasan lebih
dari sekadar bebas dari pengaruh luar; melainkan pula bebas dalam menentukan
pilihan-pilihan (choices). Dengan kata lain,
kebebasan berarti memiliki kemampuan (capabilities) untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Misalnya, kemampuan memenuhi kebutuhan
dasarnya, kemampuan menghindari kematian dini, kemampuan menghindari kekurangan
gizi, kemampuan membaca, menulis dan berkomunikasi. Negara karenanya memiliki
peranan dalam menjamin bahwa setiap orang dapat berpartisipasi dalam
transaksi-transaksi kemasyarakatan yang memungkinkan mereka menentukan pilihanpilihannya
dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Menurut
pandangan sosial demokrat, strategi kemiskinan haruslah bersifat institusional
(melembaga). Program-program jaminan sosial dan bantuan sosial yang dianut di
AS, Eropa Barat, dan Jepang, merupakan contoh strategi anti kemiskinan yang
diwarnai oleh teori sosial demokrat. Jaminan sosial yang berbentuk pemberian
tunjangan pendapatan atau dana pensiun, misalnya, dapat meningkatkan kebebasan
karena dapat menyediakan penghasilan dasar dengan mana orang akan memiliki
kemampuan (capabilities) untuk memenuhi kebutuhan dan menentukan
pilihanpilihannya (choices). Sebaliknya, ketiadaan pelayanan dasar tersebut
dapat menyebabkan ketergantungan (dependency) karena dapat membuat orang tidak
memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dan menentukan pilihan-pilihannya.
Dirumuskan
secara tajam, maka dapat dikatakan bahwa kaum neoliberal memandang bahwa
strategi penanggulangan kemiskinan yang melembaga merupakan tindakan yang tidak
ekonomis dan menyebabkan ketergantungan. Sebaliknya, pendukung sosial demokrat
meyakini bahwa penanggulangan kemiskinan yang bersifat residual, beorientasi
proyek jangka pendek, justru merupakan strategi yang hanya menghabiskan dana
saja karena efeknya juga singkat, terbatas dan tidak berwawasan pemberdayaan
dan keberlanjutan. Apabila kaum neoliberal melihat bahwa jaminan sosial dapat
menghambat “kebebasan”, kaum sosial demokrat justru meyakini bahwa ketiadaan
sumber-sumber finansial yang mapan itulah yang justru dapat menghilangkan
“kebebasan”, karena membatasi dan bahkan menghilangkan kemampuan individu dalam
menentukan pilihan-pilihannya (choices).
3. Teori
Marjinal
Teori
Marjinal berasumsi bahwa kemiskinan di perkotaan terjadi
dikarenakan adanya ‘kebudayaan kemiskinan’ (culture of poverty) yang
tersosialisasi di kalangan masyarakat atau komunitas tertentu.
Oscar Lewis
(1966) adalah tokoh dari aliran teori Marjinal, konsepnya yang terkenal adalah Culture of Poverty. Menurut Lewis, masyarakat di Dunia
Ketiga menjadi miskin karena adanya Culture of Poverty (Kebudayaan Kemiskinan),
dengan karakter:
1) Apatis, menyerah
pada nasib
2) Sistem-sistem
keluarga yang tidak mantap
3) Kurang
pendidikan
4) Kurang ambisi untuk
membangun masa depan
5) Kejahatan dan
kekerasan merupakan hal yang lumrah
Ada 2
(dua) pendekatan pererencanaan yang bersumber dari pandangan Teori Marjinal:
1) Prakarsa
harus datang dari luar komunitas.
2) Perencanaan
harus berfokus pada perubahan nilai, karena akar masalah ada pada nilai.
4. Teori
Development
Teori
Developmental (bercorak pembangunan) muncul dari teori-teori pembangunan
terutama neo liberal. Teori ini mencari akar masalah kemiskinan pada
persoalan ekonomi dan masyarakat sebagai satu kesatuan
Ada 3 asumsi
dasar dari teori ini:
1. Negara
menjadi miskin karena ketiadaan atribut industrialisasi, modal, kemampuan
menajerial, dan prasarana yg di perlukan untuk peningkatan ekonomi
2. Pertumbuhan
ekonomi adalah kriteria utama pembangunan yang dianggap dapat mengatasi
masalah-masalah ketimpangan
3. Kemiskinan
akan hilang dengan sendiri bila pasar diperluas sebesar-besaranya dan
pertumbuhan ekonomi dipacu setinggi-tingginya.
Ketiga asumsi
tersebut, terlihat bahwa kemiskinan yang terjadi di kota-kota
bukan persoalan budaya, sebagaimana anggapan penganut Teori Marjinal (Cultur of Poverty) melainkan persolana ekonomi dan
pembangunan.
Implikasi
Teori Developmental pada Perencanaan dan kebijakan:
1. Bahwa
rencana-rencana pembangunan harus diarahkan pada kekuatan-kekuatan produksi,
efisiensi perkotaan, penghematan skala (economic of scale)
dan perolehan modal investasi.
2. Perencanaan
pembangunan harus diarahkan pada peningkatan prasarana yang dapat mengatasi
masalah ketimpangan.
3. Perencanaan
untuk meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan.
4. Perencanaan-proyek-proyek
pemberdayaan masyarakat (community empowerment).
5. Teori
Struktural
Teori ini
didasari oleh pemikiran yang berasal dari Teori Dependency (Teori
Ketergantungan) yang diperkenalkan oleh Andre Gunder Frank (1967) “Capitalism
and the Underdevelopment in Latin America”, dan juga oleh Teothonio Dos Santos,
dan Samir.
Teori
Struktural berasumsi bahwa kemiskinan dikota-kota Dunia Ketiga terjadi bukan
karena persoalan budaya, dan juga bukan bukan persoalan pembangunan ekonomi,
melainkan persoalan struktural, yang hanya dapat dijelaskan dalam konstelasi
politik-ekonomi Dunia.
Teori
Dependensi mengajukan 3 asumsi utama:
1. Dunia
didominasi oleh suatu perekonomian tunggal sedemikian rupa sehingga semua
negara di Dunia diintegrasikan ke dalam lingkungan produksi kapitalisme yg
menyebabkan keterbelakangan di negara Periphery.
2. Negara-negara
Core (Inti) menarik surplus dari negara-negara periphery melalui
suatu matarantai metropolis-satelit.
3. Sebagai
akibatnya negara-negara Periphery menjadi semakin miskin, dan negara-negara
Core menjadi semakin kaya.
Dengan
berdasar pada pemikiran Dependency tersebut, Teori Struktural mengajukan asumsi
bahwa kemiskinan di Dunia Ketiga harus dilihat pada suatu konstelasi ekonomi
internasional dan struktur politik global yang menerangkan bahwa ketergantungan
itulah yang menjadi penyebab negara-negara terkebelakang & masyarakatnya
menjadi makin miskin.
Ada 4 (empat)
pendekatan Perencanaan yang bersumber dari asumsi-asumsi Teori Struktural dan
Dependency:
1. Kemiskinan
harus dilihat secara dinamis dari bagaimana usaha dan kemampuan kaum miskin itu
sendiri dalam merespon kemiskinan mereka
2. Indikator kemikinan
semestinya merupakan indikator yg komposit dengan unit analisis keluarga (rumah
tangga) dan jaringan sosial (social work) yang
ada disekitarnya.
3. Konsep
kemampuan sosial (social capability) dipandang lebih
lengkap dari pada konsep pendapatan.
6. Teori Artikulasi Moda Produksi
Teori
Artikulasi Moda Produksi adalah salah satu teoeri dalam jajaran studi-studi
pembangunan yang dikembangkan oleh Pierre-Phillipe Rey, Meillassoux, Terry, dan
Taylor, dari pemikiran Karya Karl Marx dan Frederic Engels mengenai Moda
Produksi (Mode of Poduction)
Teori ini
berasumsi bahwa reproduksi kapitalisme di negara-negara periphery terjadi dalam
suatu simultanitas tunggal di mana pada sisi periphery, terjadi artikulasi dari
sedikitnya dua moda produksi (moda produksi kapitalis dan moda produksi
pra-kapitalis.
Koeksistensi
dari kedua moda produksi tersebut menghasilkan eksploitasi tenaga
kerja murah dan problem akses bagi kelompok masyarakat miskin yg masih tetap
berada dalam ranah moda produksi pra-kapitalisme atau pra-kapitalis atau
non-kapitalis.
Strategi
penanganan kemiskinana ditawarkan oleh Teori Artikulasi Moda Produksi dikenal
dengan “person-in-environment”, dan “person-in-situation” yang dianalogikan
sebagai strategi “ikan-kail”
1) Memberikan
keterampilan memancing
2) Menghilangkan
dominasi kepemilikan kolam ikan oleh keleompok elit dalam masyarakat.
3) Mengupayakan
perluasan akses pemasaran bagi penjualan ikan.
Teori
Artikulasi Moda Produksi melandasai 2 (dua) macam pendekatan: Moderat dan
Radikal
Pendekatan
Moderat, meliputi:
1) Pemberian
bantuan sosial dan rehabilitasi sosial yang diselenggarakan oleh panti-panti
sosial
2) Program
jaminan perlindungan dan asuransi kesejahteraan sosial.
3) Program-program
pemberdayaan masyarakat (Country/ society empowerment).
Pendekatan
Radikal meliputi:
1) Bahwa
justeru di dalam masyarakat itu sendiri terjadi ketidak-adilan dan ketimpangan,
yang menyebabkan taraf hidup sebagain warna masyarakatnya tetap saja rendeh
2) Karenanya
kebijakan yang paling tepat adalah gerakan untuk mengadakan reformasi dan
tranformasi terhadap berbagai intitusi yang dianggap kurang menguntungkan kaum
miskin.
2.3
Jenis-jenis Kemiskinan
1. Kemiskinan individu
Teori pertama terdiri dari
serangkaian penjelasan bahwa individu bertanggung jawab atas kemiskinan yang
dialaminya. Secara umum, para pencetus teori ini, yang berhaluan konservatif
menyalahkan individu akan kemiskinan yang dialaminya dengan menyatakan bahwa
mereka menciptakan masalah bagi diri mereka sendiri dan dengan pilihan yang
tepat, kemiskinan dapat dihindari (dan hal itu juga dapat berulang, variasi
lain dari teori ini adalah kemiskinan berasal dari buruknya komunitas genetik
seperti tingkat intelegensi yang tidak memadai).
Keyakinan bahwa kemiskinan berasal
dari individu sudah lama timbul. Doktrin yang menyamakan kekayaan berasal dari
kemurahan Tuhan adalah inti dari ajaran Reformasi Protestan. (Weber,2001) dan
orang buta, pincang, atau cacat adalah diyakini sebagai hukuman dari Tuhan atas
dosa-dosa yang dilakukan oleh orang tuanya. Dengan munculnya teori Intelegensi
turunan pada abad ke-19, aliran genetik berubah menjadi memandang kemiskinan
secara rasional dan aliran itu perlahan-lahan menghilang khususnya pandangan
terhadap mereka yang memiliki kemampuan terbatas. Buku-buku seperti The Bell
Curve (1994) hasil karya dari Herrnstein danMurray adalah pendekatan modern
dari penjelasan tersebut diatas. Rainwater (1970, hal 16) secara kritis
membahas teori individualistis dalam kemiskinan sebagai ”Perspektif moral” dan
memberi catatan bahwaorang miskin adalah orang yang menderita yang diukur
dengan tanda Cain. Mereka ditakdirkan untuk menderita, sungguh-sungguh harus
menderita, karena kebobrokan mental mereka. Mereka hanya berhak untuk hidup di
neraka di atas bumi.
Teori ekonomi yang menyatakan bahwa
orang miskin kekurangan dorongan untuk mengembangkan kondisi mereka adalah
tema pada artikel-artikel yang cenderung menyalahkan sistem
kesejahteraan yang memberi santunan kepada para orang miskin. Pada artikel di
jurnal Cato, ahli ekonomi Gwartney dan McCaleb berpendapat bahwa selama
bertahun-tahun perang melawan kemiskinan justru semakin meningkatkan angka
kemiskinan itu sendiri (didasarkan pada pengiriman uang tidak secara tunai)
pada orang dewasa yang bekerja karena tidak adanya hal yang bisa dijadikan
teladan dalam pengeluaran yang digunakan untuk kesejahteraan. Mereka menyimpulkan
bahwa penerapan dari sistem ekonomi yang sederhana menjelaskan bahwa masalah
yang terdapat dalam perang melawan kemiskinan adalah :
Mereka (Program Kesejahteraan) telah
memperkenalkan perlawanan terhadap struktur rangsangan , suatu hal yang dapat
menghambat perkembangan diri dan melindungi anti-individu sebagai konsekuensi
dari pilihan salah yang mereka pilih. (1985, hal 7).
Hal ini dan pendapat-pendapat yang serupa yang menyatakan bahwa si miskin
adalah resiko moral ”juga menyatakan bahwa masalah kemiskinan berlanjut menjadi
lebih buruk bukan karena kita tidak cukup melakukan sesuatu, akan tetapi karena
kita terlalu banyak melakukan sesuatu yang sia-sia” (Gwartney dan McCaleb, 1985
hal15).Model pendekatan ekonomi mereka akan memecahkan masalah kemiskinan
dengan mengasumsikan bahwa penalty terhadap orang miskin cukup ampuh sehingga
membuat orang tidak akan memilihnya (dan sistem kesejahteraan dibatasi bagi
mereka yang menderita cacat atau dengan kata lain tidak mampu bekerja).
Versi kritik yang sedikit lebih
besar dari teori kemiskinan individualistis berasal dari nilai-nilai individual
orang Amerika – mitos Horatio Alger bahwa setiap individu dapat meraih
kesuksesan dengan ketrampilan dan kerja keras, dan motivasi dan ketekunan yang
diperlukan untuk meraih kesuksesan (lihat Asen, 2002, hal 29-34). Literature
bantuan sendiri memperkuat kepercayaan bahwa kegagalan individu dikarenakan
karena mereka tidak mencoba dengan keras. Frank Bettger (1977, hal 187-188)
dalam tradisi Dale Carnegie, menjelaskan bagaimana dia mendapat daftar tujuan
perbaikan sendiri yang memfokuskan dan menjadisalah satu salesman yang paling
sukses dan bayaran termahal di Amerika. Dia terus mengatakan bahwa setiap orang
dapat meraih sukses dengan sebuah formula yang mudah – memfokuskan pada tujuan
dan kerja keras. Dengan ekstensi literature ini mengimplikasikan
bahwa orang-orang yang tidak sukses harus menghadapi fakta bahwa mereka sendiri
bertanggung jawab atas kegagalan mereka sendiri.
2. Kemiskinan kultural
Akar teori kedua kemiskinan itu
sendiri menyebabkan “Kultur Kemiskinan”. Teori ini kadang-kadang berkaitan
dengan teori kemiskinan individu atau teori-teori lain yang akan diperkenalkan
sebagai berikut, tetapi saat ini teori itu telah meluas untuk di diskusikan
bahwa fitur spesialnya seharusnya tidak diminimalisir. Teori ini menyarankan
bahwa kemiskinan diciptakan oleh transmisi antar generasi dari kumpulan
kepercayaan, nilai-nilai, dan kerampilan yang secara sosial akan tetapi
dilakukan secara individual. Individu tidak perlu untuk dipersalahkan karena
mereka korban dari disfungsi subkultur dan kultur mereka sendiri.
Sosilog Amerika telah lama terpesona oleh subkultur para imigran dan
juga par a penghuni yahudi sebagaimana kekayaan dan kekuatan mereka. Kultur
secara social dijalankan dan di abadikan, merefleksikan interaksi individual
dan komunitas. Interaksi social tersebut membuat teori “Kultur Kemiskinan”
berbeda dari teori “Individual” yang secara eksplisit berkaitan dengan
kemiskinan bagi kemampuan individu dan motivasi. Secara teknis, kultur
kemiskinan adalah subkultur orang-orang miskin di perkampungan, daerah-daerah
miskin atau konteks social dimana mereka mengembangkan kumpulan pembagian
kepercayaan, nilai-nilai dan norma-norma untuk tingkah laku yang terpisah tapi
melekat pada kultur masyarakat utama.
Oscar Lewis adalah salah satu
penulis utama untuk mendefinisikan kultur kemiskinan sebagai kumpulan
kepercayaan dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dia
menulis,
Sekali kultur kemiskinan telah ada dan menjadi nyata maka kemiskinan itu
cenderung akan diabadikan sendiri. Dengan berjalannya waktu anak-anak miskin
sekitar enam atau tujuh mereka biasanya akan menyerap tingkah laku dasar dan
nilai-nilai subkultur mereka. Yang kemudian secara psikologis tidak siap untuk
mengambil manfaat penuh dari perubahan kondisi atau perbaikan kesempatan yang
mungkin dapat berkembang dalam kehidupan mereka. (Scientific American, Oktober
1966 dikutip dalam Ryan, 1976, hal 120).
Kultur-kultur disosialiasikan dan
dipelajari, dan salah satu penyewa pembelajaran teori adalah dengan memberikan
penghargaan bagi orang-orang yang mempelajari apa yang ditujukan. Teori kultur
kemiskinan adalah program anti kemiskinan pemerintah menganugerahi orang-orang
memanipulasi kebijakan untuk bertahan pada kemakmuran. Dasar argumen
konservatif seperti Charles Murray dalam Losing Ground (1984)
adalah kemakmuran pemerintah yang mengabadikan kemiskinan dengan mengijinkan
sebuah siklus “Penurunan Kemakmuran” dimana keluarga miskin berkembang dan mewariskan
ketrampilannya kepada yang lain untuk mengerjakan system dari pada untuk
mendapatkan pembayaran kerja. Hasil jaringan teori kemiskinan ini digabungkan
oleh Asen (2002 hal 48) dalam frase perseptif, “dari perang kemiskinan menuju
perang kemiskinan”.
Teori kemiskinan ini berdasarkan pada pengabadian nilai-nilai cultural yang
penuh dengan kontroversi. Tidak seorangpun yang memisahkan bahwa orang-orang
miskin memiliki subkultur atau bahwa sub kultur dari orang-orang miskin adalah perbedaan dan mungkin detrimental. Usaha ini melebihi apakah
penyebab-penyebab dan hukum-hukum menjadi bagian sub kultur kekayaan. Daniel
Patrick Monynihan menemukan konsep utama yang dapat diaplikan untuk
pembelajarannya dari kekayaan Black dari awal tahun 1960an dan di kaitkan
dengan kekayaan Black untuk secara luas ”yang tidak dapat berfungsi” di dalam
keluarga Afrika Amerika yang ditemukan di pusat kota. Valentine (1968, hal 20)
mengkritisi E. Franklin Frazier, yang dengan Daniel Patrick Mynihan (1965)
menjabarkan budaya orang miskin negro sebagai sebuah ”Kekacauan Imoral yang di
bawa oleh dis integrasi bangsa dan budaya kulit hitam dibawah tekanan arus
urbanisasi”
Dalam situasi sub kultur penjelasan
budaya orang miskin adalah lebih bersifat simpatik atau menarik. Contohnya:
banyak pelajar-pelajar dari kaum liberal memahami problematika kultur bahwa
orang amerika asli mencoba berhadapan untuk menyatu denagn sistem dari golongan
dari kelas menengah. Secara berlawanan, setelah banyak generasi yang kita sebut
dengan pergerakkan ”kepahlawanan” dari kelompok imigran italia atau suku
Irish dan kemauan mereka untuk menerima bekerja keras dan berusaha
untuk mencapai tujuan jangka panjang mereka di bidang sosial ekonomi. Kita
melupakan diskriminasi budaya yang mereka hadapi untuk menghindari
ketidakcocokan dari mulai generasi mereka datang. Sekarang ini, sub kultur
memberikan penghargaan bagi pendidikan yang lebih tinggi dan kewirausahaan
antara kelompok imigran India dan Asia adalah diberikan sebuah contoh bagaimana
subkultur dapat bekerja di kelompok-kelompok yang bervariasi untuk mencoba
menghilangkan kekayaan.
3.Kemiskinan struktur politik dan ekonomi
Dimanapun teori kemiskinan pertama
”individualistik di advokasi oleh para pemikir konservatif dan yang kedua
adalah melalui pendekatan budaya liberal, yang ketiga adalah dimana kita tahu
teori sosial terbaru. Para penteori didalam tradisi ini melihat tidak kepada
individu sebagai sumber dari kemiskinan tetapi dari sisi ekonomi, politik dan
sistem sosial yang menyebabkan seseorang mempunyai kesempatan yang terbatas dan
sumber-sumber lain dengan usaha untuk mendapatkan pendapatan dan penghidupan
yang layak. Penelitian dan teori ini menekankan kepada problematika yang sering
terjadi yang dicatat oleh Rank, Yoon, & Hirschl : ”Para peneliti kemiskinan
memiliki dampak yang difokuskan kepada siapa yang kehilangkan sumber-sumber
ekonomi, lebih banyak daripada mengacu kepada fakta bahwa usaha-usaha produksi
kalah dalam tempat pertama”
Pada abad ke-19 intelektual sosial
mengembangkan sebuah pergerakan yang kuat pada teori individu dengan
menjabarkan bagaimana sistem sosial dan ekonomi dikembangkan dan dikreasikan
dengan situasi kemiskinan individu. Sebagai contoh, Marx, menunjukan bagaimana
sistem ekonomi kapitalis dikembangkan dengan sistem pengamanan bagi para
pengangguran sebagai strategi yang dicanangkan untuk menjaga tegaknya
undang-undang. Kemudian Durkheim, menunjukan bahkan tindakan-tindakan personil/
tingkahlaku adalah menjadi faktor perantara bagi sistem sosial. Diskriminasi
dipisahkan dari ketrampilan seseorang setelah yang lainnya, menjadikan
kesempatan sebagai perantara sosial. Didapatkan pada sebuah sistem yang
ekstrim, pemikir-pemikir radikal memberikan argumen bahwa sistem ini
diluncurkan dan secara radikal harus ditransformasikan.
Banyak dari literatur tentang
kemiskinan saat ini menyarankan bahwa sitem ekonomi harus disusun kembali
seperti halnya sebuah cara bahwa orang-orang miskin itu jatuh karena keputus
asaan dan bagaimana mereka tetap memiliki harapan. Secara terpisah masalah ini
menjadi faktor harga minimum yang tidak dapat mengijinkan penduduk asli atau
keluarga mereka untuk secara ekonomi mendapatkan kepuasan tersendiri (Jencks,
1996, p.72).
Problem kemiskinan pekerjaan ini
secara meningkat dilihat sebagai masalah yang dikaitkan pada nilai-nilai
struktur keluarga miskin dari mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,
dipermasalahkan dengan jumlah yang terbatas dari pekerjaan disamping para
pekerja dan keberhasilan tingkat pertumbuhan pada sektor-sektor yang mendukung
ketrampilan pekerjaan yang lebih rendah (Tobin, 1994). Secara kebetulan
penelitian ini menunjukan bahwa ketersediaan pekerjaan untuk menurunkan
pendapatan seseorang adalah sama seperti yang telah didapat, tetapi nilainya
bahwa para pekerja dapat bekerja dari pekerjaan tersebut yang telah mengalami
kegagalan. Selain itu, rangkaian keuntungan termasuk peduli kesehatan dan
promosi menjadi jarang sebagai keahlian para pekerja yang lebih rendah.
Perubahan hubungan ekonomi tersebut didokumentasikan oleh Blank (1997) dan
Quigley (2003) yang menunjukan cara pengembangan sistem meningkat dengan
menghadapi problem-problem yang sulit untuk siapapun yang ingin bekerja.
Eliminasi dari berbagai macam
hambatan pekerjaan yang lebih baik melalui pendidikan dan pelatihan yang
memfokuskan kepada pelatihan kekuatan manusia secara ekstensif dan
program-program lain, kesuksesan generasi substansial tetapi juga kegagalan
yang bersifat merugikan. Bagaimanapun, walaupun kepentingan dari sebuah nilai
pendidikan yang penting, pendapatan per siswa dalam keuntungan yang lebih kecil
disamping mereka yang diberikan keuntungan yang lebih besar terutama pada siswa
yang lebih kaya, para guru lebih kecil dilatih untuk dapat lebih menerima hal
itu, buku-buku juga sering kadaluarsa atau supplai yang terbatas, jumlah yang
sedikit dan juga kultur belajar yang dibawah rata-rata. Kegagalan sistem pada
sekolah-sekolah ini selanjutnya dipikirkan untuk menjadi alasan kemiskinan
seseorang yang memiliki prestasi di bidang hukum, jumlah para lulusan yang
masih miskin sedikitnya mereka yang mendapatkan kesempatan pendidikan lebih
tinggi (Chubb&Moe, 1996).
Sebuah hambatan paralel eksis dengan
sistem politik dimana minat dan partisipasi dari orang miskin ini bersifat
tidak mungkin ada atau menolak. Penelitian terbaru mengkonfirmasikan hubungan
antara kekayaan dan kekuasaan, dan menunjukan bagaimana orang-orang miskin
kurang dilibatkan dalam diskusi-diskusi politik sehingga minat mereka tidak
muncul didalam proses politik dan mereka tertinggal dalam berbagai macam level.
Pasangan ini adalah dengan diskriminasi radikal, kegagalan orang-orang miskin
yang berpengaruh didalam sistem politik dan mereka mungkin menggunakan
keuntungan-keuntungan ekonomi dan keadilan.
Kategori terakhir dari sistem
kerusakan diasosiasikan dengan kemiskinan yang dihubungkan untuk
kelompok-kelompok manusia yang masih diberikan stigma sosial karena ras,
jender, ketidakmampuan, agama atau perbedaan kelompok,yang memicu mereka untuk membatasi
kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai dengan kemampuan
masing-masing personal. Tidak ada upaya untuk memerangi kemiskinan yang dapat
dilakukan tanpa mengakui kesalahan kelompok yang mencakup terjainya
diskriminasi yang dilakukan sehingga membatasi kesempatan untuk mendapatkan
perlindungan hukum. Proses untuk memperkuat hak-hak bagi kaum minoritas yang
barada dalam kemiskinan sedang berlangsung, dimana inisiatif hukum dan
reformasi kebijakan publik harus bekerja dengan upaya untuk merubah sikiap
masyarakat umum.
4. Kemiskinan Geografi
Kemiskinan di daerah pedesaan,
kemiskinan geto, daerah yang tidak mempunyai investasi, kemiskinan di daerah
selatan, kemiskinan di dunia ketiga, dan perbedaan-perbedaan lain yang
diwujudakan denga karakteristik kemiskinan yang timbul secara terpisah dari
teori-teori yang lain. Walaupun teori-teori kemiskinan yang berdasarkan pada
daerah geografis mendukung teori-teori yang lain, teori regional ini menekankan
fakta bahwa orang-orang, institusi dan kebudayaan-kebudayaan di daerah tertentu
menimbulkan kekurangan sumber daya objektif
Seperti yang dijelaskan oleh Shaw (1996, halaman 29), “Ruang bukanlah latar
belakan kapitalisme, akan tetapi lebih direstrukturisasi oleh kapitalisme
tersebut dan mengkontribusikan kelangsungan sistem tersebut. Lingkup geografi
kemiskinan adalah ekpresi ruang dari system kapitalisme”.
Kemiskinan tersebut lebih kuat di
beberapa area adalah observasi lama, dan penjelasan-penjelasan yang berlebihan
dalam literatur pembangunan tentang mengapa kurangnya daerah-daerah tertentu
dasar ekonomi kurang dapat berkompetisi. Penjelasn-penjelasan terbaru termasuk
ketiadaan investasi, kedekatan terhadap sumber-sumber alam, kepadatan, difusi
inovasi, dan factor-faktor lain( lihat Morrill & Wohlenberg, 1971, halaman
57-64). Dalam review literature yang cermat mengenai kemiskinan desa, Weber dan
Jensen (2004) menjelaskan bahwa dalam literature yang terbaru menemukan sebuah”
pembagian desa” yang berada dalam kemiskinan, akan tetapi efek ruang tidaklah
sejelas seperti yang terisolasi dari efek-efek individual yang diperlukan untuk
kepercayaan diri. Goldsmith dan Blakely mengajukan sebuah perspektif tentang
komprehensif tentang keterkaitan antara pembangunan dan kemiskinan dalam
konteks urban. Dalam bukunya,Separate Societies, mereka berargumentasi
bahwa proses penggabungan pergerakan rumah tangga dan pekerjaan jauh dari
area-area miskin di pusat-pusat kota dan daerah-daerah pedesaaan yang menciptakan
sebuah “pemisahan kerja, tempat tinggal, dan ekonomi, kehidupan social dan
politik” (1992, halaman 125). Proses-proses tersebut seperti yang telah
didiskusikan sebelumnya dilipat gandakan oleh pengabaian rasisme dan politik
local yang tumbuh dengan subur.
Salah satu perspektif teoritis dalam
ruang konsentrasi kemiskinan berasal dari teori pengelompokn ekonomi. Yang
biasanya digunakan untuk menjelaskan pentingnya kelompok-kelompok industri yang
kuat (Bradshaw, King, & Wahlstrom, 1999) pengelompokan menunjukkan seberapa
dekat firma-firma serupa yang menarik pelayanan-pelayanan suportif dan
pasar-pasar., yang nantinya akan lebih menraik banyak firma. Kebalikannya,
kedekatan kemiskinan dan kondisinya mendorong menuju kemiskinan atau
konsekuensi area-area yang menarik kelompok-kelompok bisnis, menjauhkan diri
dari komunitas-komunitas yang miskin. Harga-harga perumahan yang rendah di
lokasi-lokasi tersebut akan dapat menarik lebih banyak orang-orang miskin,
contohnya, mendorong ketiadaan investasi perumahan oleh pemilik-pemilik
bangunan. Di dunia yang terdapat criteria untuk investasi adalah ‘lokasi,
lokasi, lokasi, maka tidaklah beralasan untuk dapat menjajaki investasi menuju
lingkungan, komunitas, dan area-area yang sebelumnya sudah menjadi investasi yang
substansial, daripada meninggalkan area-area yang kurang menarik.
Pengertian teoritis yang kedua
adalah dari teori tempat pusat dan pengujian pertumbuhan urban akan keterkaitan
“ekologi manusia” yang mengikuti aliran ilmu pengetahuan dan capital (Rural Sociological
Society, 1990 halaman 71-74). Seperti yang telah dijelaskan oleh Niles Hansen
(1970), area-area pedesaan seringkali menjadi pemeberhentian terakhir
teknologi, dan rendahnya upah dan harga kompetitif yang mendominasi produksi.
Infrastruktur mendorong pembangunan sumber daya manusia, akan tetapi jika
infrasruktur itu kurang, aktivitas ekonomi yang melumpuhkan tersebut mungkin
menggunakan sumber-sumber tersebut. Tempat-tempat yang tertinggal (Lyson &
Falk, 1992) mengakibatkan kompetisi terbesar dalam restrukturisasi ekonomi
karena pekerjaan-pekerjaan dalam kategori ini sepertinya lebih bergerak ke
negara yang kurang berkembang. Peningkatan isi literature menghadapi landasan
area-area menguntungkan untuk lebih berkembang daripada area-area yang kurang
menguntungkan bahkan dalam periode pertumbuhan ekonomi umum dan maka
akan ada beberapa “cucuran-kebawah” tetapi tidak setara dengan
ekonomis-ekonomis klasik yang akan dapat kita percayai (Rural Sociological
Society, 1990, halaman 114-119).
Perspektif ketiga melibatkan
migrasi-keluar selektif. Dalam salah satu bagian buku Wilson, The Truly
Disadvantaged (1987), menjelaskan bahwa orang-orang dengan level pendidikan
tertinggi, ketrampilan yang terbaik, wacana yang luas, dam kesempatan yang
paling ekstensif adalah orang-orang yang bermigrasi dari wilayah kampung
dilokasi suatu pusat kota menuju ke tempat- tempat lain. Ditambahkan, dia
berpendapat, bahwa orang-orang yang berbeda ini adalah model peranan terbaik
dari sebuah komunitas dan seringkali pemimpin-pemimpin pemerintahan. Kemiskinan
pedesaaan secara atribut yang sejenis untuk diseleksi migrasi-keluar. Kepadatan
populasi (baik kepadatan desa yang rendah dan akibat negatif dari tingginya
kepadatan) adalah bagian lain dari sebuah teori pertumbuhan isi lingkup
variable dalam pengetahuan social yang menggunakan alat GIS untuk melacak
kesempatan dinamis ruang dan kemiskinan (Bradshaw & Muller, 2003)
5.Kemiskinan Akumulatif
Empat teori terdahulu
mendemonstrasikan adanya kompleksitas sumber-sumber kemiskinan dan varietas
strategi dalam menghadapinya. Teori akhir kemiskinan lebih lanjut
akan lebih kompleks dan pada beberapa tingkat akan membangun komponen dari
setiap teori-teori lain yang akan terlihat oleh individu dan komunitas mereka
sebagai pilinan kesempatan dan masalah, dan suatu masalah yang mendominasi maka
akan menutup kesempatan lainnya dan membentuk kumpulan masalah yang akan
membuat respon efektif yang hamper tidak mungkin terjadi (Bradshaw, 2000).
Penjelasan peredaran secara eksplisit terlihat pada situasi individu dan
sumber-sumber komunitas sebagai ketergantungan secara mutual dengan ekonomi
yang labil, sebagai contoh, menciptaka individu-individu yang kurang memiliki
sumber daya untuk berpartisipasi dalam ekonomi, maka akan membuat keberlangsungan
ekonomi menjadi lebih sulit bagi komunitas yang masyarakatnya membayar pajak
lebih sedikit.
Teori ini mengambil dari teori
ekonomi asli Myrdal (1957, hal 23) yang mengembangkan sebuah teori
tentang “keterkaitan sirkulasi, ketergantungan dengan proses penyebab
kumulatif” yang dapat membantu untuk menjelaskan ekonomi yang belum berkembang
dan berkembang. Myrdal menjelaskan bahwa seseorang dan komunitas yang baik
saling bergantung dalam aliran konsekuensi negative, dan bahwa penutupan sebuah
pabrik/ krisis lain dapat menyebabkan masalah bagi seseorang dan komunitas
termasuk migrasi orang-orang dari sebuah komunitas. Jadi ketergantungan
factor-faktor secara actual menciptakan kemiskinan yang mendorong sebuah
penolakan siklus yang telah dimulai.
Di suatu tempat dimana siklus
kemiskinan telah dijelaskan secara benar dalam sebuah buku tentang pendidikan
pedesaan oleh JonathanSher (1977) yang memfokuskan pada sebuah siklus dimana
pendidikan dan pekerjaan dalam interaksi sebuah level komunitas dan individu
untuk membentuk pilinan ketiadaan investasi dan penolakannya, sedangkan dalam
komunitas yang lebih maju factor-faktor serupa tersebut berkontribusi untuk
membangun dan kemakmurannya. Contohnya, pada level komunitas, kurangnya
kesempatan pekerjaan akan mendorong migrasi- keluar, penutupan toko-toko
grosir, dan penurunan pendapatan pajak local akan mendorong kemerosotan
sekolah-sekolah sehingga akan menghasilkan para pekerja yang kurang terlatih,
firma-firma besar tidak akan mampu untuk menyediakan teknologi dan bagi
ketidakmampuan untuk merekrut firma-firma baru dalam area tersebut, sehingga
akan mengundurkan lebih banyak generasi pekerja yang kurang terlatih.
Siklus ini akan terjadi berulang kali pada level individu. Kurangnya
pekerjaan akan menyebabkan kurangnya konsumsi dan belanja dikarenakan oleh
ketidaksetaraan pendapatan dan oleh karena ketiadaan tabungan, hal itu berarti
bahwa individu-individu tersebut tidak dapat menginvestasi pelatihan, dan
individu-individu yang kemampuannya kurang untuk dapat berinvestasi dalam
bisnis-bisnis atau untuk memulai usaha mereka sendiri, maka akan menyebabkan
kurangnya ekspansi, erosi pasar, dan ketiadaan investasi sehingga kesemua
factor tersebut akan dapat menyebabkan ketidak setaraan dalam komunitas.
Masalah-masalah kesehatan dan ketidakmampuan untuk membayar pengobatan
preventif, diet yang baik dan tinggal dilingkungan yang sehat menjadi beberapa
alasan bagi orang miskin selanjutnya jauh tertinggal dibelakang. Ditambahkan ,
siklus kemiskinan berarti bahwa orang-orang yang kurang cukup pendapatannya
maka ia akan gagal berinvestasi dalam pendidikan anak-anaknya. Anak-anak mereka
tidak akan belajar dengan baik di sekolah-sekolah dengan kualitas yang jelek,
dimasa depan mereka akan jauh terbelakang.
Penjelasan singkat siklus kemiskinan
ini ada dalam teori-teori terdahulu. Teori ini menunjukan bagaimana orang-orang
menjadi tidak bermanfat dalam konteks social mereka, yang selanjutnya akan
mempengaruhi kemampuan psikologis pada tingkat individu. Berbagai macam faktor
struktur dan politis dalam teori siklus saling memnperkuat satu sama lain,
dengan faktor-faktor ekonomi yang berkaitan dengan masyarakat dan
variable-variabel politik dan sosial. Mungkin hal ini adalah nilai terbesar dan
mungkin secara eksplisit berkaitan dengan factor-faktor ekonomi pada level
individu dengan factor-faktor struktur yang bekerja pada sebuah level
geografis. Sebagai teori kemiskinan, teori siklus menunjukan bagaimana
masalah-masalah kumulatif tersebut berlipat ganda dan hal ini mendorong
spekulasi sehingga jika salah satu rantai dalam pilinan tersebut rusak, maka
siklus tersebut tidak dapat dilanjutkan. Masalahnya adalah bahwa rantai-rantai
tersebut sulit untuk dirusak karena setiap rantai tersebut diperkuat oleh
bagian-bagian lain dari sistem pilinan tersebut.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Hakikat Kemiskinan
Kemiskinan adalah tidak hanya
terpenuhinya makanan dasar, perlindungan, perawatan medis, pengamanan,
kebiasaan berpikir yang dilandaskan pada nilai kebebasan manusia.
akan tetapi, lebih luas dikatakan bahwa sesungguhnya, kemiskinan adalah keadaan
memaksakan kehendak kepada orang lain.
Kemiskinan dapat diartikan
pencabuatan penghubung. ”sosial (definisi penghubung) dan kemiskinan juga
didasarkan pada budaya lokal ketika menghendaki menyelesaikan problem lokal.
Menurut
wikipedia Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang
biasa untuk dipunyai seperti makanan, pakaian, tempat berlindung dan air minum,
hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup.
3.2 Faktor Penyebab Kemiskinan Di
Indonesia
Tidak sulit mencari faktor-faktor
penyebab kemiskinan, tetapi dari faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan
mana yang merupakan penyebab sebenarnya serta mana yang berpengaruh langsung dan
tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan.
1. Tingkat dan laju pertumbuhan output
1. Tingkat dan laju pertumbuhan output
2. Tingkat upah neto
3. Distribusi pendapatan
4. Kesempatan kerja
5. Tingkat inflasi
6. Pajak dan subsidi
7. Investasi
8. Alokasi serta kualitas SDA
9. Ketersediaan fasilitas umum
10. Penggunaan teknologi
11. Tingkat dan jenis pendidikan
12. Kondisi fisik dan alam
13. Politik
14. Bencana alam
15. Peperangan
3. Distribusi pendapatan
4. Kesempatan kerja
5. Tingkat inflasi
6. Pajak dan subsidi
7. Investasi
8. Alokasi serta kualitas SDA
9. Ketersediaan fasilitas umum
10. Penggunaan teknologi
11. Tingkat dan jenis pendidikan
12. Kondisi fisik dan alam
13. Politik
14. Bencana alam
15. Peperangan
Selain itu juga
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kemiskinan di antaranya:
Beberapa faktor
yang menyebabkan timbulnya kemiskinan menurut
Hartomo dan
Aziz (1997) yaitu :
1). Pendidikan
yang Terlampau Rendah
Tingkat
pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan
tertentu yang diperlukan dalam kehidupannya. Keterbatasan pendidikan atau
keterampilan yang dimiliki seseorang menyebabkan keterbatasan kemampuan
seseorang untuk masuk dalam dunia kerja.
2). Malas
Bekerja
Adanya
sikap malas (bersikap pasif atau bersandar pada nasib) menyebabkan seseorang
bersikap acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk bekerja.
3).
Keterbatasan Sumber Alam
Suatu
masyarakat akan dilanda kemiskinan apabila sumber alamnya tidak lagi memberikan
keuntungan bagi kehidupan mereka. Hal ini sering dikatakan masyarakat itu
miskin karena sumberdaya alamnya miskin.
4). Terbatasnya
Lapangan Kerja
Keterbatasan
lapangan kerja akan membawa konsekuensi kemiskinan bagi masyarakat. Secara
ideal seseorang harus mampu menciptakan lapangan kerja baru sedangkan secara
faktual hal tersebut sangat kecil kemungkinanya bagi masyarakat miskin karena
keterbatasan modal dan keterampilan.
5).
Keterbatasan Modal
Seseorang
miskin sebab mereka tidak mempunyai modal untuk melengkapi alat maupun bahan
dalam rangka menerapkan keterampilan yang mereka miliki dengan suatu tujuan untuk
memperoleh penghasilan.
6). Beban
Keluarga
Seseorang
yang mempunyai anggota keluarga banyak apabila tidak diimbangi dengan usaha
peningakatan pendapatan akan menimbulkan kemiskinan karena semakin banyak
anggota keluarga akan semakin meningkat tuntutan atau beban untuk hidup yang
harus dipenuhi.
Menurut
Kartasasmita dalam Rahmawati (2006), kondisi kemiskinan dapat
disebabkan oleh
sekurang-kurangnya empat penyebab, yaitu :
1. Rendahnya
Taraf Pendidikan
Taraf
pendidikan yang rendah mengakibatkan kemampuan pengembangan diri terbatas dan
meyebabkan sempitnya lapangan kerja yang dapat dimasuki. Taraf pendidikan yang
rendah juga membatasi kemampuan seseorang untuk mencari dan memanfaatkan
peluang.
2. Rendahnya
Derajat Kesehatan
Taraf
kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan rendahnya daya tahan
fisik, daya
pikir dan prakarsa.
3. Terbatasnya
Lapangan Kerja
Selain
kondisi kemiskinan dan kesehatan yang rendah, kemiskinan juga diperberat oleh
terbatasnya lapangan pekerjaan. Selama ada lapangan kerja atau kegiatan usaha,
selama itu pula ada harapan untuk memutuskan lingkaran kemiskinan.
4. Kondisi
Keterisolasian
Banyak
penduduk miskin secara ekonomi tidak berdaya karena terpencil dan terisolasi.
Mereka hidup terpencil sehingga sulit atau tidak dapat terjangkau oleh
pelayanan pendidikan, kesehatan dan gerak kemajuan yang dinikmati masyarakat
lainnya.
Menurut
Suryadiningrat (2003), kemiskinan pada hakikatnya disebabkan oleh kurangnya
komitmen manusia terhadap norma dan nilai-nilai kebenaran ajaran agama, kejujuran
dan keadilan. Hal ini mengakibatkan terjadinya penganiayaan manusia terhadap
diri sendiri dan terhadap orang lain.
Penganiayaan
manusia terhadap diri sendiri tercermin dari adanya :
1) keengganan bekerja
dan berusaha,
2) kebodohan,
3) motivasi rendah,
4) tidak
memiliki rencana jangka panjang,
5) budaya
kemiskinan, dan
6) pemahaman
keliru terhadap kemiskinan.
Sedangkan
penganiayaan terhadap orang lain terlihat dari
ketidakmampuan
seseorang bekerja dan berusaha akibat : 1) ketidakpedulian
orang mampu
kepada orang yang memerlukan atau orang tidak mampu dan 2)
kebijakan yang
tidak memihak kepada orang miskin.
Nasikun
dalam Suryawati (2005) menyoroti beberapa sumber dan proses
penyebab
terjadinya kemiskinan, yaitu :
1) Pelestarian
Proses Kemiskinan
Proses
pemiskinan yang dilestarikan, direproduksi melalui pelaksanaan suatu kebijakan
diantaranya adalah kebijakan anti kemiskinan, tetapi realitanya justru
melestarikan.
2) Pola
Produksi Kolonial
Negara
ekskoloni mengalami kemiskinan karena pola produksi kolonial, yaitu petani
menjadi marjinal karena tanah yang paling subur dikuasai petani skala besar dan
berorientasi ekspor.
3) Manajemen
Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Adanya
unsur manajemen sumber daya alam dan lingkungan, seperti manajemen pertanian
yang asal tebang akan menurunkan produktivitas.
4) Kemiskinan
Terjadi Karena Siklus Alam.
Misalnya
tinggal di lahan kritis, dimana lahan ini jika turun hujan akan terjadi banjir
tetapi jika musim kemarau akan kekurangan air, sehingga tidak memungkinkan
produktivitas yang maksimal dan terus-menerus.
5) Peminggiran
Kaum Perempuan
Dalam
hal ini perempuan masih dianggap sebagai golongan kelas kedua, sehingga akses
dan penghargaan hasil kerja yang diberikan lebih rendah dari laki-laki.
6) Faktor
Budaya dan Etnik
Bekerjanya
faktor budaya dan etnik yang memelihara kemiskinan seperti, pola hidup
konsumtif pada petani dan nelayan ketika panen raya, serta adat istiadat yang
konsumtif saat upacara adat atau keagamaan.
3.3Ukuran Kemiskinan
Para politisi dan pemerintah masih saja disibukkan oleh
perdebatan mengenai validitas angka-angka kemiskinan yang dikeluarkan Badan
Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia.
Bank Dunia pada 2007 menggunakan ukuran US$ 2 -PPP
(purchasing power parity )/kapita/hari . Dengannya angka kemelaratan mencapai
105,3 juta jiwa (45,2%) atau lebih rendah dari angka pada 2006 yang mencapai
113,8 juta jiwa (49,6%).
BPS melaporkan, jumlah penduduk
miskin (penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan) di Indonesia pada bulan
Maret 2006 mencapai 39,05 juta (17,75 persen) atau meningkat sebesar 3,95 juta
dari data tahun sebelumnya.
Ukuran kemiskinan yang dianut oleh
banyak negara, termasuk Indonesia, dengan standar Bank Dunia, ternyata secara
empiris acap kali "tidak bisa atau kurang tepat" menjelaskan fenomena
kemiskinan. Terutama, membandingkan kemiskinan dengan kesejahteraan.
Pengukuran kemiskinan dengan standar
Bank Dunia didasarkan pada ukuran pendapatan (ukuran finansial), di mana batas
kemiskinan dihitung dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan
untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan.
Namun terbukti, tidak semua
kemiskinan identik dengan ketidaksejahteraan, demikian juga tingkat pendapatan
yang tinggi, belum mencerminkan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Sen Poverty
Index (SPI) yang merupakan formula untuk mengukur indeks kemiskinan, ternyata
tidak mampu mengukur tingkat kesejahteraan.
Persoalan kemiskinan bukan hanya
sekedar jumlah dan prosentase penduduk miskin, melainkan dimensi yang perlu
diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan seberapa parah kemiskinan tersebut.
Data kemiskinan yang baik dapat
dipergunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan,
membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah serta menentukan target
penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki posisi mereka.
3.4 Solusi untuk Menghadapi
Kemiskinan Di Indonesia
3.4.1 Kebijakan yang Diambil
Pemerintah
·
Mengadakan
reformasi dan tranformasi terhadap berbagai intitusi yang dianggap kurang
menguntungkan kaum miskin
·
Bahwa
rencana-rencana pembangunan harus diarahkan pada kekuatan-kekuatan produksi,
efisiensi perkotaan, penghematan skala (economic of scale)
dan perolehan modal investasi.
·
Perencanaan
pembangunan harus diarahkan pada peningkatan prasarana yang dapat mengatasi
masalah ketimpangan.
·
Perencanaan
untuk meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan.
·
Perencanaan-proyek-proyek
pemberdayaan masyarakat (community empowerment).
Untuk mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi
pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang bila di bagi menurut
waktu yaitu :
a. Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan
b. Intervensi jangka menengah dan panjang meliputi: Pembangunan sektor swasta, Kerjasama regional, APBN dan administrasi, Desentralisasi, Pendidikan dan Kesehatan Penyediaan air bersih dan Pembangunan perkotaan.
a. Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan
b. Intervensi jangka menengah dan panjang meliputi: Pembangunan sektor swasta, Kerjasama regional, APBN dan administrasi, Desentralisasi, Pendidikan dan Kesehatan Penyediaan air bersih dan Pembangunan perkotaan.
3.4.2 Solusi
Alternatif Pengentasan Kemiskinan
Hakikat pembangunan
pertanian diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Namun,
seringkali kronologi yang diterapkan tidak netral terhadap initial endowment
petani, maka tidak semua petani dapat langsung memanfaatkan atau terlibat
dalam program-program pembangunan pertanian. Untuk mengatasi hal tersebut,
program pembangunan pertanian yang langsung terkait dengan penanggulangan
kemiskinan yang perlu diimplementasikan adalah berupa pembagian benih atau
bibit tanaman dan hewan bagi pengembangan di daerah-daerah yang memerlukan
perhatian khusus seperti daerah lahan kering marjinal, daerah transmigrasi dan
daerah pantai, Kasryno dan Suryana, (1987).
Badan Pusat Statistik
(2005), menjelaskan bahwa ada beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam
menanggulangi masalah kemiskinan, diantaranya adalah melalui kebijakan makro
ekonomi, pendekatan kewilayahan, dan pendekatan pemenuhan hak-hak dasar
kebutuhan manusia. Kebijakan makro ekonomi untuk menanggulangi kemiskinan
adalah dengan cara meningkatkan pertumbuhan ekonomi, stabilitas ekonomi dan penciptaan
lapangan kerja.
Pendekatan kewilayahan
yang digunakan untuk menanggulangi kemiskinan
adalah dengan percepatan pembangunan
perdesaan, pembangunan perkotaan,
pengembangan kawasan pesisir, dan
percepatan pembangunan di daerah
tertinggal. Strategi penanngulangan
kemiskinan yang dilakukan melalui pendekatan pemenuhan hak-hak dasar adalah
dengan melakukan pemenuhan hak atas pangan, sandang, pendidikan, kesehatan,
akses terhadap sumberdaya sosial dan ekonomi, kegiatan usaha produktif,
perumahan air bersih dan rasa aman.
Menurut Saharia (2003), paradigma baru
dalam penanggulangan
kemiskinan yaitu melakukan pembangunan
perdesaan, dimana pertanian diposisikan sebagai sumber pendapatan yang
menjanjikan dan hasil yang memadai. Pertanian dapat menjadi sumber pendapatan
yang memadai apabila setiap program melibatkan partisipasi aktif masyarakat
yang ada di wilayah perdesaan (sekitar 75%) dari total penduduk dan tentunya
disesuaikan dengan
potensi yang dimiliki dalam hal ini
potensi sumber daya manusianya dan potensi sumberdaya alamnya.
Dalam PP No 13 tahun
2009 tentang koordinasi penanggulangan
kemiskinan, terdapat 3 kelompok program
penanggulangan kemiskinan
diantaranya yaitu :
1) Kelompok program penanggulangan
kemiskinan berbasis bantuan dan perlindungan sosial yang terdiri atas
program-program yang bertujuan untuk melakukan pemenuhan hak dasar, pengurangan
beban hidup, serta perbaikan kualitas hidup masyarakat miskin;
2) Kelompok program penanggulangan kemiskinan
berbasis pemberdayaan masyarakat yang terdiri atas program-program yang
bertujuan untuk mengembangkan potensi dan memperkuat
kapasitas kelompok masyarakat miskin
untuk terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip
pemberdayaan masyarakat;
3) Kelompok program
penanggulangan kemiskinan berbasis
pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil terdiri atas program-program yang
bertujuan untuk memberikan akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha
berskala mikro dan kecil.
Selain cara diatas juga ada bebrapa strategi lain yang dapat digunakan
untuk menanggulangi kemiskinan. Diantaranya adalah:
1.Program Anti Kemiskinan Dari Perspektif Kemiskinan
2. Individual
Praktek pembangunan kemiskinan,
melekat pada decade kemakmuran dan kebijakan social, yang secara frekuensi
berkaitan dengan program-program yang bertujuan untuk menanggulangi masalah
kemiskinan berdasarkan pada teori defisiensi individu. Kunci
inisiatif sekarang ini adlah untuk mendorong orang miskin untuk bekerja sebagai
tujuan dasar, seperti apa yang disebut oleh Maskovsky “consensus pekerja”.
Tentusaja pergerakan ini di dampingi oleh peningkatan perhatian dalam strategi
“bantuan sendiri” bagi orang miskin untuk keluar dari kemiskinan, strategi
tersebut diperkuat oleh eliminasi bentuk bantuan lain (Maskovsky, 2001. hal
472-473). Mengumpulkan kredit pajak pendapatan adalah salah satu aspek
strategis untuk meyakinkan orang miskin bekerja meskipun dibawah upah standar.
Namun, dari sebuah perspektif pembangunan komunitas, penujukan kemiskinan
dengan pemfokuskan pada karakteristik individual dan pilihan-pilihan yang buruk
meningkatkan komflik pundamental dalam filosofi dan apa yang diketahui untuk
menuju keberhasilan. Keinginan pembangunan komunitas menjauhkan diri dari
penyalahan individu dan program level individu biasanya diletakan pada usaha
komunitas dengan pengembangan komunitas yang sangat alami. Jadi, program anti
kemiskinan dalam pembangunan komunitas ditujukan untuk menentang
strategi-strategi yang menghukum atau mengubah individual sebagai sebuah solusi
untuk kemiskinan, meskipun bekerja dengan kebutuhan individu dan kemampuan
adalah sebuah objektif konstan. Ketegangan ini akan terjadi dalam pelaksanaan
program anti kemiskinan.
Namun, banyak program anti
kemiskinan sementara tidak di desain dengan penuh perasaan; mereka menggunkan
hukuman dan ancaman hukuman ahar dapat mengubah tingkah laku dan mengeluarkan
orang tersebut dari bantuan public (lihat O’Connor, 2001; Quigley; 2003).
Cintoh terbaik dari respon ini untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan cara
mengurangi jumlah tahun seseorang yang diperlukan dalam bantuan keluarga dan
untuk memerlukan partisipasi dalam aktifitas kerja setelah 2 tahun kemakmuran
(lihat Levitan et al.,2003, hal 59-72) adalah sebuah inti bagian konservatif
secara politis (yang dinamakan secara ironis) Tanggung Jawab Pribadi dan
Tindakan Rekonsiliasi Kesempatan Kerja (PRWORA). Ancaman dalam pemutusan
bantuan dipercaya dapat mengubah tingkah laku sejak seseorang akan kehilangan
bantuan setelah 5 tahun. Program lain yang telah saya pelajari (MERCAP) mengurangi
pembayaran bantuan bagi para keluarga jika anak-anak mereka gagal untuk masuk
sekolah; hal tersebut diharapkan agar anak-anak akan lulus dari sekolah
menengah atas dan tidak akan menjadi generasi lain penerima kemakmuran. Dalam
studi ini ditemukan bahwa hukuman sedikit dilakukan untuk mengubah tingkah laku
meskipun atensi dari guru-guru dan administrator sekolah membantu untuk
mengidentifikasi alasan-alasan yang lebih kompleks untuk keberadaan sekolah
yang miskin(Campbell & Wright, 2005).
Namun usaha anti kemiskinan level
individual memiliki sebuah komponen sosial. Yang pertama jaringan pengaman yang
dapat dipercaya dapat membantu orang-orang yang sebaliknya tidak dapat untuk
membantu dirinya sendiri adalah benar-benar tanggung jawab pemerintah. Orang
cacat, manula, anak-anak dan bahkan orang yang tidak beruntung adalah bagian
dari komunitas, dan tanpa penghakiman, kebutuhan individual mereka dapat
dicukupi dengan tindakan kolektif. Sebuah jaringan pengamanan, tanpa konotasi
peoratif, adalah sebuah kunci kesopanan. Membuat sebuah jaringan pengamanan dan
tersedia diterima secara luas.
Ditambahkan, untuk memperluas bahwa
pembuat kebijakan atau para pemimpin program melaksanakan teori kemiskinan
tersebut. Hal itu, sepertinya mereka akan mencapai pendekatan pembangunan
komunitas untuk memecahkan masalah kemiskinan. Jadi, meskipun pandangan sosial
yang luas bagi para individu adalah bertanggung jawab terhadap kemiskinan
mereka sendiri, para pengembang komunitas melihat ke teori-teori kemiskinan
untuk pendekatan-pendekatan yang lebih positif.
3.Program anti kemiskinan dari sebuah kultur perspektif kekayaan
Dari sebuah perspektif perkembangan
masyarakat, apakah alasan teoritis untuk kemiskinan di dalam nilai-nilai dan
keyakinan, dipindahkan dan didorong kembali dalam sub kultur pada seseorang
yang sudah tidak berbudaya, kemudian usaha lokal anti kemiskinan membutuhkan
untuk pelaku yanbg diwawancara untuk menolong perubahan kultur. Sosialisasi ini
sebagai kebijakan dimana dapat bekerja dalam tiga cara yang didasarkan pada
saran dari Valentine (1968) atas beberapa model yang berbeda tentang kemiskinan
teori budaya:
a. Jika seseorang merasa bahwa
kultur miskin dari sistem kepercayaan disfungsional dan pengetahuan pendekatan
ini akan memindahkan budaya denagn sebuah kultur fungsional yang lebih mampu
mensuport lebih banyak dari pekerjaan di bawah pola pikir yang bersifat
produktif, investasi dan tanggung jawab sosial.. Banyak eksperimen dimana
mereka dicoba dengan hasil yang bervariasi, perelokasian orang miskin dari
pemukiman bangsa Ghetto menuju kedaerah pinggiran dengan harapan bahwa kultur
yang baru akan menolong keluarga dari kemiskinan. (Goetz, 2003 Goering, Feins
& Richardson, 2003)
b. Selain itu pula, jika seseorang
berfikir bahwa budaya kemiskinan sebagai sebuah pemahaman dan sub kultur yang
tidak produktif dan menghidupkan generasi-generasi kemudian fokusnya akan
memberikan support pada pemuda untuk menghentikan ketidak kreatifan kultur
detrimental. Sama halnya dengan para pengembang komunitas yang sering
dibutuhkan dalam membantu program-program paska sekolah untuk para remaja
dimana budaya miskin ini dapat dimonitor dan nilai-nilai sosial yang bersifat
positif dapat dibangun walaupun memindahkan para pemuda-pemuda jalanan dari
lingkungan buruk mereka dan tingkah laku detrimental (kejahatan/buruk) mereka.
Program-program ini merupakan kebijakan yang cukup familiar digunakan (Levian
et al., 2003) karena program-program ini diyakini dapat merubah kultur para
pemuda sementara nilai-nilai mereka dan norma-norma mereka masih belum
terbangun dengan baik.
c. Sebuah pendekatan ketiga
pada budaya kemiskinan adalah untuk mencoba bekerja dengan budaya untuk
mengembalikan makna dari strategi-strategi kultur yang utama untuk memperbaiki
nilai-nilai kepemilikan berkelompok. Sebagai contoh, sebuah pengembang
komunitas dapat memperkuat dan membangun nilai-nilai kultural dengan sub kultur
pada kemiskinan yang dapat menjadi aset untuk perkembangan ekonomi. Kerjasama
kerajian lokal contohnya adalah, program-program yang berada pada bisnis
industri dan budaya kecil dan kewirausahaan yang diperoleh di dalam sub kultur
sebagai perbedaan pada perpindahan daerah-daerah urban dan kelas menengah dari
penduduk asli. Institusi- Institusi dengan kelompok tradisional ini atau strata
yang masing-masing saling berkreasi dan mengembangkan bisnis yang di
dokumentasikan dengan baik di dalam literatur. Walaupun program-program yang
mempromosikan kewirausahaan mikro sebagai bagian dari kemiskinan adalah sering
di jual lebih (Gold Stein, 2001), program-program yang bersifat belum nyata
dari Grameen Bank sebagai jalan keluar kemiskianan yang mengarahkan pada
strategi-strategi persaingahn kultural yang membanguhn kekuatan-kekuatan
kelompok.
4.Program anti kemiskinan dari
struktur perspektif kemiskinan
Jika masalah kemiskinan adalah
sistem yang lebih dari dalam kemiskinan mereka, respon komunitas berkembang
harus mengganti sistemnya. Ini sangat mudah dikatakan tapi sulit dikerjakan
yang memungkinkan penjelasnnya mengapa banyak program polis kembali pada
percobaan untuk mengganti tingkah laku individual. Bagaimana mendapat lebih
dari satu pekerjaan meningkatnya sekolah untuk kemiskinan, jumlah pendapatan
distribusi pemindahan prasangka diskriminasi dari perumahan, perbankan,
pendidikan, dan lingkungan, dan jumlah jaminan partisipasi politik oleh orang
miskin?
Pergantian sistem dapat ditentukan
pada tiga level. Dari level bawah pergerakan sosial dapat menggunakan
tekanan pada bagian dari system yang mudah mendapatkan kritikan untuk memaksa
terjadinya sebuah perubahan. Walaupun kebanyakan penelitian menunjukan adanya
kemunduran terhadap dukungan gerakan social masyarakat miskin, Rank (2004, hal
189-191) mengemukakan bahwa perubahan dapat dilakukan untuk mendukung adanya
pekerjaan yang lebih baik bagi masyarakat miskin dan system yang lebih efektif
semenjak munculnya bagian dalam bukunya yang berbunyi, “ kemiskinan di Amerika
memepengaruhi kita semua.” . Masyarakat yang di organisasikan pada tradisi
Alinsky (1945) telah membantu mengurangi angka kemiskinan di Negara ini (Rank,
2004 hal 233).
Strategi kedua dalam pembangunan
masyarakat untuk melakukan perubahan pada system yang melibatkan penciptaan dan
pengembangan badan-badan alternative yang memiliki akses, keterbukaan dan
kemauan untuk membantu kaum miskin untuk meraih hidup yang lebih baik.
Akhirnya, perubahan dapat terjadi
melalui proses kebijakan (Page & Simmons, 2000) jarak antara kebijakan
sosial dan federal dapat disesuaikan dengan menyempurnakan program pengurangan
kemiskinan yang meliputi menyediakan lapangan pekerjaan, menaikan upah,
memperluas jaringan keamanan menjamin akses yang efektif bagi perawatan
kesehatan, dan mengkoordinasi program-program asuransi sosial.
5.Program Anti Kemiskinan dari sebuah Geografi Perspektif Kemiskinan
Sebuah teori geografis kemiskinan
mengimplikasikan bahwa respon-respon perlu untuk diarahkan ke dalam kunci
dinamis yang mendorong untuk menolak berada dalam area depresi sedangkan
area-area lain sedang bertumbuh. Daripada memfokuskan pada individu-individu, bisnis-bisnis, pemerintahan,
dan system kemakmuran, atau proses cultural, teori geografis mengarah pada
pengembang-pengembang komunitas untuk melihat pada tempat-tempat dan
proses-proses yang akan dapat menjadikan mereka dapat menyokong dirinya
sendiri. Secara menarik, beberapa komunitas yang kurang bermanfaat di seluruh
dunia menemukan jalan keluar dari kemisikinannya dan seperti yang telah
ditunjukkan bahwa hal tersebut dapat dilakukan. Akan tetapi, hal tersebut sulit
seperti yang dijleaskan oleh Morrill dan Wohlenberg (1971, halaman 119)
Beberapa
pendekatan diambil untuk membangun area-area geografis yang lebih
kuat; contoh- contoh dibawah ini dapat menunjukkan
daripada daftar yang lengkap.
a. Perbaikan kompetisi industri local melalui pembangunan kelompok (Blakely
& Bradshaw, 2002) atau pembangunan komunitas kreatif (Florida, 2002)
b. Zona-zona usaha, pembangunan ulang, dan pajak lain-bedasarkan program
insentif untuk mempromosikan perkembangan ekonomi dan saluran investasi pribadi
c. Pencantuman zona, perumahan yang dapat dijangkau, dan program-program
serupa yang menggantikan kondisi dalam pembangunan
d. Investasi dalam infrastruktur, termasuk jalan tol antara negara bagian,
taman-taman, air, pembuangan limbah, sekolah-sekolah, dan fasilitas-fasilitas
public lainnya.
e. Pengaturan
komunitas
f. Re-investasi nasional dan regional yang mengubah dana-dana dari satu
area ke area yang lain, seperti sebuah komitmen yang membantu Amerika Serikat
bagian Selatan untuk dapat berkembang setelah perang dunia kedua.
Pendekatan pembangunan komunitas
melalui visi komunitas, perencanaan dan khususnya investasi komunitas yang
terpusat untuk membantu mengembalikan area-area yang tidak tertekan dan
tempat-tempat dimana kemiskinan merajalela. Karena pengembang-pengembang
komunitas memahami komunitasnya, maka usaha mereka seringkali memepengaruhi
asset-aset komunitasnya, integrasi pembangunan ekonomi dalam sebuah area dengan
rumah dan factor-faktor alokasi ruang yang lain, dan dengan harapan akan
terjadi perubahan yang dapat meningkatkan kesempatan bagi para penghuninya.
6.Program Anti Kemiskinan Dari Siklus Perspektif Kemiskinan
Kompleksitas siklus kemiskinan
berarti bahwa solusi-solusi tersebut pastilah sama kompleksnya. Kemiskinan
memiliki banyak aspek tetapi usaha –usaha anti kemiskinan kita kelihatannya
berfokus hanya pada bagian-bagian solusi. Pengembang-pengembang komunitas ahli
dalam mengapresiasi ketergantungan bagian-bagian yang berbeda dalam komunitas.
Dan solusi mereka adalah mencoba untuk menunjukan isu-isu seperti
kemiskinan-kemiskinan dari pendekatan dari berbagai sudut pandang.
Langkah-langkah yang diperlukan untuk memecah siklus kemiskinan adalah
kompleks. Namun, inisiatif berbagai cabang menawarkan sebuah solusi yang lebih
baik untuk menanggulangi kemiskinan daripada pendekatan-pendekatan single.
Inisiatif pengembangan komunitas yang berwacana luas dilekatknan pada beberapa
program anti kemiskinan yang paling sukses seperti korporasi pembangunan komunitas,
proyek-proyek revitalisasi lingkungan local dan usaha-usaha lain yang berakar
pada pemecahan masalah dengan manajemen organisasi yang terdiversifikasi.
Batasan pertama pada keempat teori kemiskinan mendorong kita untuk melihat
lebih dekat pada siklus-siklus. Sebuah langkah penuh dari kemiskinan memerlukan
enam elemen ketergantungan kecukupan sendiri yang dapat di identifikasikan dan
dijelaskan oleh (Miller et al, 2004) :
a. Pendapatan dan asset-aset ekonomi,
b. Pendidikan
dan ketrampilan,
c. Perumahan dan lingkungannya (keselamatan, menarik),
d. Akses untuk perawatan kesehatan dan pelayanan social yang diperlukan
lainnya,
e. Keterikatan pribadi yang lebih dekat, sebaik mana jaringan dengan
yang lain,
f. Akal pribadi dan kemampuan kepemimpinan.
Sebuah bagian yang esensi dari
pendekatan komprehensif ini dalam membantu individu-individu dari kemiskinan
adalah bahwa tidak ada jalan bagi public yang dapat melakukan hal tersebut bagi
setiap orang tanpa adanya peningkatan capital social dulu diantara komunitas-komunitas
atau sub kultur-sub kultur orang miskin tersebut.Miller memiliki keyakinan yang
kuat bahwa keterkaitan antar pribadi yang kuat seperti yang ada di desa-desa
atau kelompok-kelompok yang terorganisasi dapat membantu yang tidak akan dapat
dilakukan oleh para professional. Kuncinya adalah membantu kelompok-kelompok
orang miskin tersebut dalam membangun komunitas yang saling mendukung dengan
berbagi kepercayaan dan mutualitas. Program ini secara sadar mencari
manfaat-manfaat pembangunan capital social (mengikuti Putnam, 2000) berdasarkan
“kelompok-kelompok afinitas dimana orang-orang saling berbagi ketertarikan yang
sama dari etnik, agama, sejarah agama, tempat tinggal, sumber-sumber
persahabatan lain.
Dalam menghadapi tugas yang
berlebihan dalam membantu baik orang-orang miskin dan lingkungan tempat tinggal
mereka yang miskin, maka tidak ada jawaban yang mudah dalam memecahkan siklus
kemiskinan tersebut. Pemetaan asset (Kretzmann & McKnight, 1993) menawarkan
sebuah cara untuk mengidentifikasi apapun penguat yang dimiliki komunitas dan
untuk menggunakannya dalam memecahkan masalah dengan cara yang paling efektif,
organisasi yang telah ada dengan akar dalam komunitas secara umum lebih efektif
dalam menjembatani dalam berbagai masalah dalam sebuah komunitas untuk
menghadapi siklus kemiskinan dari pada organisasi tunggal baru yang bertujuan.
Program-program pembangunan
komunitas membentuk usaha-usaha mereka disekitar tiga focal point untuk
memecahkan siklus kemiskinan. Struktur program-program ini, seperti teori
siklus itu sendiri, mengkombinasikan antara strategi dan alat dari respon
terhadap teori-teori kemiskinan yang lain.
a. Program Komprehensif.
Stategi awal dalam pemecahan siklus
kemiskinan adalah dengan membangun program komprehensif. Program komprehensif
yang dimaksud termasuk diantaranya adalah berbagai macam pelayanan yang
menjembatani anatara kebutuhan individu dan komunitas.
b. Kolaborasi.
Kunci untuk mengatur program-program
ekstensif tanpa menjadikannya terlalu tidak terkontrol adalah dengan
mengkolaborasikan diantara organisasi-organisasi berbeda dalam menyediakan
pelayanan-pelayanan pelengkap adalah dengan kombinasi-kombinasi usaha, output
yang lebih besar daripada apa yang dapat mereka lakukan sendiri. Kolaborasi
melibatkan jaringan diantara para partisipan, meskipun koordinasi dapat menjadi
berbagai macam dari formal ke informal.
c. Pengaturan komunitas.
Akhirnya pengaturan komunitas adalah
sebuah alat dimana orang-orang lokal dapat berpartisipasi untuk memahami
bagaimana kehidupan pribadi mereka dan komunitas yang baik yang saling terkait.
Memecahkan siklus kemiskinan harus melibatkan individual tersebut untuk
berpartisipasi dalam sebuah komunitas begitu juga sebaliknya, seperti
individual-individual yang memebentuk pilinan yang menurun jika mereka dan
komunitasnya berinteraksi dalam siklus kegagalan. Bagi orang miskin,
kekuasaan adalah pusat dari masalah ini.
Hal yang menarik dalam pendekatan
untuk kemiskinan ini adalah paling sedikitnya yang secara umum dijelaskan pada
literature kemiskinan, akan tetapi masyarakat – berdasarkan contoh-contoh yang
ada bilamana keberhasilan juga didiskusikan. Tidak terdapat komunitas
komprehensif - berdasarkan program pemenuhan sendiri dari pemerintah federal
atau Negara-negara bagian lainnya. Apa yang dapat dilakukan untuk membangun
komunitas dan memperbaiki kehidupan orang-orang miskin. Kunci dari kesuksesan
tersebut adalah partisipasi yang kuat.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Kemiskinan adalah tidak hanya terpenuhinya makanan dasar, perlindungan,
perawatan medis, pengamanan, kebiasaan berpikir yang dilandaskan pada
nilai kebebasan manusia. akan tetapi, lebih luas dikatakan bahwa sesungguhnya,
kemiskinan adalah keadaan memaksakan kehendak kepada orang lain.
2. Penyebab Kemiskinan
Dari beberapa tokoh yang berpendapat dapat disimpulkan bahwa:
1. Rendahnya
Taraf Pendidikan
2. Rendahnya
Derajat Kesehatan
3. Terbatasnya
Lapangan Kerja
4. Kondisi
Keterisolasian
5. Pelestarian
Proses Kemiskinan
6. Pola
Produksi Kolonial
7. Manajemen
Sumber Daya Alam dan Lingkungan
8. Kemiskinan
Terjadi Karena Siklus Alam.
9. Peminggiran
Kaum Perempuan
10. Faktor
Budaya dan Etnik
3. Pengukuran kemiskinan dengan standar Bank Dunia didasarkan
pada ukuran pendapatan (ukuran finansial), di mana batas kemiskinan dihitung
dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi
kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan.
4. Solusi untuk menghadapi masalah
kemiskinan di Indonesia. Ditinjau dari kebijakan pemerintah dapat dilakukan:
·
Mengadakan
reformasi dan tranformasi terhadap berbagai intitusi yang dianggap kurang
menguntungkan kaum miskin
·
Bahwa
rencana-rencana pembangunan harus diarahkan pada kekuatan-kekuatan produksi,
efisiensi perkotaan, penghematan skala (economic of scale) dan
perolehan modal investasi.
·
Perencanaan
pembangunan harus diarahkan pada peningkatan prasarana yang dapat mengatasi
masalah ketimpangan.
·
Perencanaan
untuk meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan.
·
Perencanaan-proyek-proyek
pemberdayaan masyarakat (community empowerment).
Sedangakan solusi alternatif pengentasan kemiskinan sejalan
dengan teori dan macam kemiskinan maka solusi pengentasan kemiskinan membuat
lima program anti kemiskinan yaitu program anti kemiskinan dari siklus
perspektif kemiskinan individu, kultur, struktur politik dan ekonomi, geografi
dan kumulatif.
4.2 Saran
Kemiskinan di Indonesia harus
secepatnya ditangani supaya tidak memperparah kondisi keesejahteraan masyarakat
yang semakin lama semakin turun. Seharusnya ada kerja sama yang baik antara
pemerintah dan rakyat untuk saling mendukung dalam mengentaskan kemiskinan dan
untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu kesejahteraan rakyat.
DAFTAR RUJUKAN
·
http://blogsuradi.blogspot.com/2013/06/teori-kemiskinan-dan-upaya.html (diakses pada tanggal 27 Nopember
2013)
·
http://bayualfian.blogspot.com/2012/10/teori-kemiskinan-dan-kebiakan-yang-di.html (diakses pada tanggal 27 Nopember
2013)
·
http://rahmatkusnadi6.blogspot.com/2010/10/mobilitas-penduduk.html
Komentar
Posting Komentar