Laporan Praktikum Kartografi
LAPORAN PRAKTIKUM KARTOGRAFI
MENGGAMBAR PETA
Dosen Pembimbing:
A.K.A Agustinus
Oleh:
Fatma Roisatin Nadhiroh
130722616093
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
PROGRAM STUDI GEOGRAFI
AGUSTUS 2013
Topik: Menggambar
Peta
Tujuan:
Mengenalkan
kepada mahasiswa untuk memahami prosedur pembuatan atau penggambaran peta dari
foto udara atau hasil survei.
Alat:
1.
Plastik
2.
Spidol
3.
Foto
atau peta udara
4.
Penggaris
5.
Karet
penghapus
Dasar
Teori:
A.
Pengertian Peta
Pada hakekatnya peta adalah alat
peraga atau alat bantu untuk menyampaikan gagasan-gagasan kepada orang lain.
Sebagai alat bantu dengan sendirinya diharapkan agar gagasan-gagasan yang
hendak disampaikan lebih mudah dan cepat ditangkap oleh orang yang membaca peta
tersebut.
Dalam sumber lain pengertian peta
adalah gambaran konvensional daripada permukaan bumi serta fenomena-fenomenanya
yang diperkecil di atas bidang datar yang disesuaikan terhadap skala. Gambaran
medan yang diperkecil berkaitan dengan skala (kedar) yang artinya adalah
perbandingan antara jarak dalam peta dengan jarak sebenarnya di medan
(permukaan bumi).
Gambaran konvensional daripada
keadaan dipermukaan bumi sering disebut sebagai simbol. Simbol tersebut berupa:
a.
Satu
dimensional : titik, garis
b.
Dua
dimensional : bentuk luas
c.
Tiga
dimensional : bentik isi
Fungsi dari
simbol-simbol ini ialah untuk menggambarkan sebagian atau seluruh permukaan
bumi beserta kenampakan-kenampakan atau fenomena yang ada di dalamnya, yang
meliputi:
a.
Kenampakan
fisik (bentang alam)
b.
Kenampakan
sosial ekonomi penduduk
Agar hakekat peta sebagai alat
peraga membawa manfaat yang sebesar-besarnya maka ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan peta, yaitu:
a.
Peta
tidak membingungkan. Supaya peta tidak membingungkan pembacanya maka harus ada
legenda, skala, judul yang menunjukkan isi dan lokasi daerah yang digambarkan
dalam peta.
b.
Mudah
ditangkap oleh pembaca. Hal ini dapat dipenuhi dengan menggunakan simbol-simbol
yang benar, tata warna yang umum digunakan dalam perpetaann serta proyeksi yang
digunakan.
c.
Peta
harus memberikan gambar yang sebenarnya atau teliti. Dalam hal ini ketelitian
yang dimaksudkan adalah menurut tujuan peta, jenis dan skala peta tersebut.
Misalnya tujuan peta untuk menunjukkan kota-kota yang akan dilalui jaringan
lalu-lintas penerbangan, maka ketelitian dalam hal jarak tidak terlalu penting
dibanding kalau tujuannya untuk memperlihatkan topografi daerah. Demikian juga
peta topografi berskala 1 : 50.000 tentu diharapkan lebih teliti daripada yang
berskala 1 : 100.000.
d.
Peta
harus sedap dipandang mata. Dalam hal ini peta hendaknya rapi dan bersih.
B.
Klasifikasi dan Pemberian
Nama Peta
Skala peta erat
kaitannya dengan isi, ketelitian dan penggunaan peta. Oleh karena itu maka dari
skala peta saja orang sudah dapat memperoleh bayangan apakah peta tersebut
dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu atau tidak. Karena itu orang
membuat klasifikasi peta berdasarkan skalanya atas tiga bagian (Wongsotjitro,
1983, halaman 36):
1. Peta Teknis: yaitu peta berskala sampai dengan 1 : 10.000.
Peta-peta teknis dibuat untuk keperluan perencanaan dan pelaksanaan
pekerjaan-pekerjaan teknis seperti jalan raya, jalan kereta api, jembatan,
saluran air, dam, gedung-gedung, dan sebagainya.
2. Peta Detail (Peta Topografi): berskala lebih kecil dari 1 : 10.000
sampai dengan 1 : 100.000. Peta ini dibuat untuk menggambarkan keadaan
topografi daerah ysng lebih luas dimana masih tampak jelas perbedaan-perbedaan
relief permukaan bumi. Karena itu diberi nama pet detail.
3. Peta Ikhtisar (Peta Geografi): berskala lebih dari 1 : 100.000.
Peta ini menggambarkan daerah yang lebih luas lagi, sehingga detail-detailnya
menjadi tidak jelas. Jadi penggunaannya lebih dititikberatkan pada hal-hal yang
bersifat menunjukkan persebaran geografis.
Penggolongan
lain berdasarkan skala peta adalah sebagi berikut: (Sutanto, 1967, halaman 4)
1.
Peta
Kadaster (Peta Teknik): skala 1 : 100 - <1 : 5.000
2.
Peta
berskala besar: 1 : 5.000 - <1 : 250.000
3.
Peta
berskala sedang: 1 : 250.000 - <1 : 500.000
4.
Peta
berskala kecil: 1 : 500.000 - <1 : 1.000.000
5.
Peta
Geografi: berskala 1 :
1.000.000
Cara
penggolongan peta lainnya adalah yang didasarkan pada isi peta yang idikaitkan
dengan skalanya. Berdasarkan isi dan skalanya peta digolongkan sebagai berikut
(Sutanto, 1967, halaman 4):
a.
Peta
Umum, yaitu peta-peta yang memuat kenampakan-kenampakan umum, baik kenampakan
fisik maupun sosial-ekonomi. Peta ini meliputi:
1.
Peta
Topografi, merupakan peta umum yang berskala besar; biasanya meliputi daerah
yang sempit.
2.
Peta
Chorografi, peta umum yang berskala sedang; meliputi daerah yang lebih luas
misalnya benua.
3.
Peta
Dunia, peta umum yang berskala kecil, meliputi daerah yang lebih luas lagi
yaitu seluruh dunia.
b.
Peta
Khusus, yaitu peta-peta yang membuat kenampakan-kenampakan khusus yang ingin
diperlihatkan. Termasuk di dalamnya adalah: Peta Politik, Peta Kota, Peta
Tanah, Peta Pariwisata, Peta Militer, Peta Perhubungan, Peta Geologi, Peta
Iklim, Peta Tematik dan sebagainya.
Dalam hal
pemberian nama suatu peta, seringkali orang keliru memberi nama atau judul
suatu peta karena terpengaruh penggolongan-penggolongan peta seperti di atas.
Misalnya peta berskala 1 : 50.000 diberi nama “Peta Detail”, atau karena memuat
kenampakan-kenampakan umum dan berskala besar maka diberi judul “Peta Topografi”.
Mereka lupa bahwa hakekat peta sebagai alat peraga untuk menyampaikan gagasan
kepada orang lain, sehingga nama atau judul peta harus tegas menjelaskan isi
gagasan yang akkan disampaikan. Karena itu nama-nama yang dikemukakan di atas
sebagai contoh harus dipertegas lagi agar orang tidak bingung Peta Detail apa
dan Peta Topografi daerah mana. Katakanlah misalnya dilengkapi menjadi Peta
Tanah Detail Kabupaten Malang dan Peta Topografi Jawa dan Madura.
C.
Langkah-langkah Pembuatan Peta
Pembuatan peta suatu
daerah tentu saja membutuhkan data-data. Sumber data tersebut adalah lapangan
nyata, yaitu kenampakan-kenampakan yang ada di daerah tersebut. Akan tetapi
tidak semua data yang ada di lapangan diperlukan, tergantung pada tujuan peta
atau apa yang akan dibuat. Misalnya kita akan membuat peta iklim maka cukup
data-data iklim dari daerah tersebut yang dikumpulkan; Peta Tanah, cukup data
mengenai jenis tanah lengkap dengan batas-batasnya dan seterusnya. Jadi
pengambilan data dari lapangan harus selektif.
Dalam kaitannya
dengan pengambilan data dari lapangan ini kita mengenal adanya pelenetian
lapangan dan penelitian dari udara.
1.
Penelitian
lapangan atau metode teristris.
Metode ini
merupakan cara pengumpulan data dari lapangan dengan jalan melakukan penelitian
langsung di lapangan. Petugas-petugas lapangan seperti juru ukur melakukan
keperluan penggambaran peta. Mereka bekerja dengan menggunakan teknik-teknik
matematik sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu maka
peta-peta topografi yang dibuat berdasarkan metode ini dapat dijadikan Peta
Dasar yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarnya, asal dikerjakan dengan benar
oleh tenag-tenaga yang terlatih.
Adapun
langkah-langkah yang biasa dilalui dalam proses pembuatan peta dengan metode
ini adalah:
a.
Perencanaan:
Begitu suatu proyek pemetaan ditetapkan, maka segera disusun suatu rencana yang
matang. Dalam tahap perencanaan ini harus ditetapkan system proyeksi yang akan
digunakan, kemungkinan-kemungkinan penempatan lokasi stasion, alat-alat yang diperlukan
beserta tenaga-tenaga yang dibutuhkan , menyusun tabel biaya dan waktu,
prosedur penggambaran dan sebagainya. Semua itu dipikirkan, dianalisis secara
matang, termasuk kemungkinan-kemungkinan hambatan yang akan dihadapi beserta
kemungkinan jalan pemecahannya agar pelaksanaan pekerjaaan dapat berjalan
dengan lancar.
b.
Pengukuran
di lapangan: Setelah perencanaan disusun dengan baik, tenaga dan peralatan
disiapkan, maka langkah berikutnya adalah terjun ke lapangan melakukan
pengukuran-pengukuran. Dalam hal ini perlu diketahui apakah sudah ada
titik-titik pasti atau belum, sebab dari titik-titik pasti itulah pengukuran
dilakukan.
c.
Penggambaran
Langkah ini
didahului dengan perhitungan-perhitungan di mana urut-urutan pekerjaan
disiapkan, rumus-rumus yag diperlukan disediakan, tabel-tabel hitungan serta
alat-alat lain dipersiapkan. Data-data yang diperoleh dari pengukuran di
lapangann dihitung, kemudian disiapkan untuk penggambaran.
Dalam tahap
penggambaran ini semua alat gambar yang dibutuhkan dipersiapkan lebih dahulu
antara lain: mistar transparan, jangka, busur, skala transversal, mal bujur
sangkar atau acuan bujur sangkar (sablon) san sebagainya. Kemudian penggambaran
dimulai dengan menggunakan pensil halus. Mula-mula digambarkan koordinat-koordinat
titik pasti di mana pekerjaan ini dipermudah dengan adanya jarring-jaring bujur
sangkar yang dibuat di atas kertas gambar dengan menggunakan acuan bujur
sangkar. Setelah kerangka dasar dibuat, dilanjutkan dengan penggambaran detail
peta. Penggambaran jarak dapat dilakukan dengan bantuan skala transversal.
Kalau gambar
sudah selesai, dietruskan dengan memberi tinta, warna, arsiran dan asebagainya,
dimana biasanya ketas gambar digosok dahulu dengan eraser powder atau pounce
untuk menghilangkan kotoran-kotoran atau sebagian garis-garis pensil.
d.
Pemeriksaan:
Sebelum peta diperbanyak atau digunakan , perlu dilakukan pemerikasaaan ulang
ke lapangan. Mungkin saja masih ada kesalahan-kesalahan yang perlu diperbaiki,
atau barangkali ada detail-detail yang belum tergambar dalam peta.
e.
Pencetakan:
Peta yan sudah diperiksa dan dinyatakan benar, kemudian dicetak dan diperbanyak
sesuai dengan kebutuhan.
2.
Penelitian
dari udara (air survey method)
Peta-peta
topografi modern kebanyakan dibuat dengan metode Fotogrametri yang menggunakan
dasar Foto Udara dan titik-titik kontrol daratan. Penggunaan foto udara sebagai
basis pembuatan peta sangat membantu mempercepat proses pemetaan. Foto udara
dapat dibuat peta dasar, disamping sebagai sumber data untuk mengisi detail-detail
peta.
Untuk daerah-daerah
yang belum dipetakan secara topografis, maka foto udara dapat dimanfaatkan
untuk membuat peta dasar dengan bantuan titik-titik kontrol di medan karena
pengukuran-pengukuran topografi membutuhkan waktu yang sangat lama. Batas-batas
administrative dapat ditambahkan lewat pengamatan di lapangan. Memang hasilnya
tidak sebaik pengukuran topografis karena beberapa kesalahan ukuran, namun
dalam keadaan mendesak masih sangat berharga dibanding kalau hanya menggunakan
Peta Bagan. Pembuatannya relative singkat dan biayanyapun relative murah.
Untuk
daerah-daerah yang telah dibuat peta topografinya, foto udara minimal dapat
berfungsi sebagai sumber data karena kenampakan-kenampakan di medan terekam
dalam foto udara. Peta yang sudah tua kadang-kadang sudah tidak memberikan
gambaran yang sebenarnya sebab adanya perubahan-perubahan misalnya daerah yang
dahulu merupakan hutan kini sudah menjadi kawasan industry dan sebagainya.
Dalam hal yanag
demikian penggunaan foto udara sebagai sumber data sangat bermanfaat untuk
memperbarui kembali peta tua tadi.
Adapun
langkah-langkah yang biasa ditempuh dalam pembuatan peta dengan basis foto
udara adalah:
a.
Pemotretan
dari udara: Pekerjaan ini dilakukan dari pesawat terbang dengan kamera yang
dirancang khusus untuk itu, dan beberapa alat-alat pelengkap seperti view
finder yang berguna dalam menentukan interval pemotretan, altimeter untuk
mengukur ketinggian dan sebagainya.
Pemotertan
biasanya dilakukan tidak terlalu pagi dan tidak terlalu sore (sekitar pukul
10.00 ke atas) agar bayangan tidak terlalu banyak. Bayangan yang terlalu banyak
akan menyulitkan interpretasi dan kenampakan-kenampakan banyak yang tertutup
oleh banyangan tersebut.
Dewasa ini
pemotretan dari udara banyak yang menggunakan satelit. Pemotretan dari satelit
biasanya menggunakan radar dengan sinar infra merah yang berkekuatan tajam
sehingga awan bukan merupakan halangan dalam pemotretan. Kameranya menggunakan
telens yang dapat diatur sehingga jarak yang jauh bukan penghalang lagi dalam
pemotretan.
b.
Prosessing
foto udara: Setelah pekerjaan pemotretan dari udara dilakukan, langkah
selanjutnya adalah memprosesnya sampai menjadi lembaran-lembaran foto udara.
Kemudian lembaran-lembaran foto udara itu disususn, dirangkai menjadi satu
untuk suatu daerah tertentu. Foto udara yang sudah digabung-gabung di sebut
Foto Udara Mosaik. Dalam menyusun ataau merangkai lembaran-lembaran foto udara
tadi perlu diperhatikan benar-benar mengenai titik-titik kontrol yang telah
ditentukan sebagai patokan sehingga foto-foto tersebut tepat bersambung.
c.
Penyusunan
kerangka titik pasti dari foto udara. Kerangka peta yang akan dibuat diambil
dari titik-titik pasti yang ada di dalam foto udara. Pemindahan dilakukan
dengan menumpangkan kertas transparan di atas foto udara sehingga mudah
terlihat.
d.
Interpretasi
foto udara: kenampakan yang ada di dalam foto udara sangat banyak dan rumit,
sehingga sulit memahami apa yang tergambar di dalam foto udara tersebut. Orang
tidak terbiasa memandangg permukaan bumi dari atas sehingga sulit untuk
menafsirkan apa yang terlihat di dalam foto udara. Di samping itu kenampakan yang terlihat di dalam foto udara
banyak yang mirip satu sama lain, misalnya hutan, semak belukar, padang rumput
dan sebagainya.
Untuk dapat menafsirkan
kenampakan di dalam foto udara, orang menggunakan alat bantu yang disebut
Stereoskop di mana foto udara tampak dalam bentuk tiga dimensi sehingga mudah
membedakan kenampakan yang satu dengan yang lain. Di samping itu ada beberapa
faktor yang perlu diperhatikan dalam menafsirkan foto udara antara lain:
-
Size
(ukuran): yaitu ukuran-ukuran dari kenampakan di dalam foto udara, misalnya
lebar jalan, jarak tanam, tinggi tanaman dan sebagainya. Dengan pengetahuan
luas mengenai ukuran-ukuran sebagai kenampakan seperti contoh di atas maka
orang mudah menafsirkan kenampakan yang ada di dalam foto udara.
-
Shape
(bentuk): bentuk-bentuk ataupun pola-pola kenampakan yang ada di dalam foto
udara dapat juga membantu menafsirkannya. Misalnya saja pola-pola sungai
berbeda dengan jaringan jalan raya, bentuk lapangan berbeda dengan nbentuk
bangunan dan sawah dan sebagainya.
-
Tone:
yaitu keadaan gelap terangnya gambar karena pengaruh sinar matahari. Sabagai
contoh, air kelihatan gelap dalam foto udara, ruput kelihatan kelabu, pasir
kelihatan putih, tanah tergantung basah keringnya di mana semakin basah makin
gelap, dan sebagainya.
-
Texture:
yaitu keadaan detail daripada tone sebagai pengaruh daripada penggunaan tanah.
Sebagai contoh, hutan kelihatan berbintik-bintik kasar, semak berbintik-bintik
halus, sabana halus berbintik-bintik, padang rumput halus dan sebagainya.
-
Shadow:
yaitu bayangan yang Nampak di dalam foto udara. Dari bayangan tersebut dapat
ditafsirkan tinggi obyek sehingga banyak membantu dalam penafsiran foto udara.
Makin banyak bayangan makin baik bagi seorang penafsir foto udara, tetapi di
sisi lain banyak merugikan karena kenampakan lain akan tertutup oleh bayangan
tersebut.
-
Approaches:
yaitu pendekatan dengan menggunakan pikiran logis. Misalnya ladang gandum dan
padang rumput keduanya kelihatan abu-abu dan bertekstur halus. Dengan
memperhatikan bahwa dekat dengan ladang gandum biasanya ada gudang dan jalannya
biasanya besar-besar sedangkan padang rumput umumnya jalannya kecil dan tanpa
gudang dekatnya, maka kedua kenampakan tersebut dapat dibedakan.
-
Relationship:
yaitu dengan meghubung-hubungkan beberapa kenampakan yang ada di dalam foto
udara kemudian dianalisis untuk mendapatkan tafsiran yang benar. Misalnya saja
di dalam foto udara terlihat seperti bangunan-bangunan kecil, letaknya gak
terpencil maka dapat ditafsirkan pekuburan.
-
Plotting:
Hasil dari penafsiran foto udara kemudian dimasukkan ke dalam kerangka peta
sebagai detail dari peta itu.
-
Penggambaran:
Setelah plotting selesai dilakukan maka langkah selanjutnya adalah menggambar
sesuai dengan aturan-aturan dalam kartografi.
-
Pencetakan:
Langkah terakhir adalah mencetak dan memperbanyak peta sesuai kebutuhan.
D.
Penggunaan Warna dalam Kartografi
Apabila
seberkas cahaya putih melalui suatu prisma, cahaya tersebut akan terpecah
menjadi spectrum cahaya yang berbea-beda wrnanya, yaitu: ultra violet, violet,
biru, biru-hijau, hijau, kuning, merah, dan infra merah.
Hal tersebut di
atas terjadi karena adanya refraksi atau pembiasan cahaya. Pembiasan suatu
cahaya tergantung dari panjang gelombangnya, semakin pendek panjang gelombang
akan semakin besar sudut pembiasannya.
Perbedaan warna
adalah sehubungan dengan perbedaan panjang gelombang. Hal ini membuktikan bahwa
cahaya putih (cahaya matahari) terdiri dari berkas-berkas cahaya yang
berbeda-beda panjang gelombangnya.
a.
Warna
aditif
Berkas cahaya putih apabila dilewatkan pada prisma akan terpecah
menjadi spektrum warna yang berbeda-beda. Sekarang kita membalik proses
tersebut untuk membentuk sinar putih. Ini dapat dilakukan dengan memproyeksikan
sinar-sinar merah, biru dan hijau pada sebuah layar.
Pada daerah overlap (lihat gambar di bawah) oleh ketiga berkas
sinar akan terbentuk sinar berwarna putih. Pada daerah-daerah overlap oleh dua
sinar akan terbentuk sinar dengan warna sebagai berikut:
·
Merah
+ biru membentuk magenta
·
Hijau
+ biru membentuk cyan atau biru
laut
·
Hijau
+ merah membentuk kuning.
Warna merah,
biru dan hijau dinamakan warna-warna utama aditif.
b.
Warna
subtraktif
Proses ini
merupakan kebalikan dari proses aditif, karena kita akan mengurangi warna dari
sinar putih.
Filter-filter
magenta, cyan, dan kuning diletakkan sedemikian rupa sehingga ber-overlap satu
terhadap lainnya di atas light box (kotak sinar), hasilnya adalah sebagai
berikut:
·
Kuning
+ magenta membentuk
merah
·
Magenta
+ cyan membentuk
biru
·
Cyan
+ kuning membentukk
hijau
·
Kuning
+ magenta + cyan membentuk
hitam
Filter kuning akan
menahan sinar biru ( dari berkas sinar putih). Filter magenta akan menahan
sinar hijau. Bila kedua filter tersebut (kuning + magenta) overlap (digabunng),
maka hanya sinar merahm biru, dan hijau yang akan tertahan, berarti tidak ada
sinar yang dipancarkkan atau akan terjadi warna hitam.
Warna kuning,
magenta, dan cyan disebut warna-warna utama subtraktif atau warna-warna
komplemen. Dari warna-warna subtraktif ini kita dapat membentu sembarang warna
lain.
c.
Hubungan
antara warna-warna aditif dan subtraktif
Aditif:
warna-warna pada titik sudut segitiga bila digabungkan secara aditif akan
menghasilkan warna pada sisi yang dibentuknya. Misalnya: merah + hijau =
kuning.
Subtraktif:
warna-warna pada sisi segitiga bila digabungkan secra subtraktif akan
menghasilkan warna pada titik sudut yang diapitnya. Misalnya: kuning + cyan =
hijau.
Masing-masing
warna utama aditif mempunyai komplemen warna utama subtraktifnya yakni pada
sisi yang berhadapan dari segitiganya.
Misal: hijau
------------ magenta, atau dengan kata lain,
Magenta =
tanpa hijau
Kuning = tanpa biru
Cyan = tanpa merah
Peta biasanya
dicetak dalam bemacam-macam warna. Kombinasi dari warna-warna akan memberikan
warna-warna yang banyak sekali variasinya.
Untuk membuat
variasi warna digunakan screen titik. Screen titi tersebut memunyai harga yang
ditentukan dalam presentase yang berbeda-beda yaitu 10%, 20%, 30%, dan
seterusnya.
Presentase di
dini berarti perbandingan antara titik hitam dengan putih, 10% berarti dalam
lembar screen itu ada 10% hitam dan 90% putih dan seterusnya.
Warna dasar
untuk cetak pada umumnya adalah kuning, magenta, cyan, dan hitam. Dengan
membuat kombinasio dari screen, maka akan dihasilkan warna/kontras yang
berlainan. Misalnya pada tabel warna ITC di mana salah satu warnanya bernotasi 27
FO berarti: 20% kuning, 70% magenta, 100% cyan, dan 0% hitam.
E.
Penggambaran dan Scribing
Penggambaran dan scribing dengan tangan merupakan pekerjaan penting
dalam memproduksi peta. Dalam pemetaan secara fotogrametris biasanya plotting dilakukan
dengan pensil di atas kertas tidak tembus cahaya (opague paper) atau material
tembus cahaya. Pekerjaan penggambaran kembali dilakukan pada seksi kartografi
agar diperoleh gambar yang komplit dengan standar yang memenuhi syarat untuk
peta akhir. Apabila peta yang akan diproduksi terdiri dari beberapa warna maka
penggambaran dilakukan terpisah untuk masing-masing warna.
Dua teknik utama yang digunakan untuk membuat garis-garis di dalam
kartografi reproduksi:
1.
Penggambaran
dengan pena dan tinta
2.
Scribing
(menggores)
Dari dua teknik tersebut scribing adalah yang paling banyak
digunakan saat ini.
1.
Penggambaran
dengan pena dan tinta
Ada tiga hal
yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang baik:
1.
Material
dimana kita akan dilakukan penggambaran
Material
(bahan) yang akan dipakai harus mempunyai dimensi kestabilan yang tinggi, ini
penting untuk menjaga ketelitian dan untuk memberikan register yang baik bagi
warna-warna yang berbeda, karena masing-masing warna yang berbeda untuk satu
peta yang terdiri dari beberapa warna membutuhkan penggambaran tersendiri untuk
masing-masing warna (color separation). Plastik film merupakan material gambar
yang baik dalam kartografi reproduksi. Ada tiga macam bahan dasar yang
digunakan:
-
Cellulose
Acetat ---- Kodatrace, cellon.
-
Vynil
chloride methyl acetat (PVC) ---- astralon, astrofil.
-
Polyester
(polietena-tenephthalate) ---- stabillene, cronaflex.
Polyester merupakan yang paling stabil, cellulose acetat merupakan
yang paling rendah kestabilannya. Yang biasa digunakan adalah PVC di mana
kestabilannya cukup baik dan harganya tidak begitu mahal.
Ketiga jenis bahan tersebut di atas memunyai ketebalan yang
berbeda-beda dan dapat diperoleh yang berupa transparent (tembus cahaya) atau
opague (tidak tembus cahaya).
Plastik merupakan bahan dengan permukaan yang enak untuk
penggambaran, tetapi mempunyai tendensi menarik lemak sehingga sebelum dipakai
harus dibersihkan lebih dahulu dengan powder, dan tangan juru gambar juga harus
bersih. Tinta tidak dapat meresap ke dalam permukaan plastik, tetapi akan
melekat pada permukaannya jika sudah kering. Hal ini berarti pembloboran tinta
pada kertas dapat selalu dihindarkan, tetapi dalam penggambaran harus
berhati-hati karena selalu harus menunggu keringnya tinta. Koreksi penggambaran
dilakukan dengan dikerok (scraping), atau dihapus dengan kain sebelum tinta
tersebut kering. Tetapi harus diingat bahwa scraping akan membuat permukaan
menjadi rusak sehingga tidak mungkin atau sulit untuk penggambaran lagi.
2.
Tinta
yang dipakai
Persyaratan yang diperlukan untuk
tinta gambar dalam pekerjaan kartografi:
-
Bersifat
waterproof
-
Harus
hitam kelam dan tahan lama
-
Harus
lekas kering.
Untuk penggambaran PVC, plastik (astralon, astrofil) biasanya
dipakai tinta dengan merk “Pelikan-K” yang memenuhi persyaratan di atas. Untuk
polyester plastik material, dipakai tinta “Pelikan-TT”.
Pelikan-T bisa dipakai untuk menggambar pada kertas biasa atau
plastik. Pelikan-TN adalah tinta spesial untuk penggambaran pada photographic
film.
3.
Tipe
pena yang dipakai
Ada
bermacam-macam pena yang digunakan. Pena yang paling sederhana “mapping pen”
sampai saat ini masih digunakan terutama untuk pekerjaan dengan tangan bebas
(free hand).
Untuk
penggambaran garis lurus dan garis kurva dengan bermacam-macam ketebalan
dipakai “ruling pen” dimana peta tersebut memungkinkan untuk pengaturan untuk
ketebalan tinta. Kedua pena tersebut di atas, mapping pen dan ruling pen
sekarang diganti dengan “reservoir pen” ialah rapidograph, rotring, graphos,
dan lain-lain dimana bermacam-macam point size dapat dilakukan yaitu dari
ketebalan 0,1 mm sampai 1,2 mm.
2.
Scribing
(menggores)
Scribing adalah salah satu teknik penggambaran yang dilakukan
dengan pena scribing dimana garis-garis dibuat dengan jalan mengupas lapisan
atas dimana sebagai dasar dipakai bahan plastik. Pengupasan ini mengakibatkan
lapisan yang tadinya tidak tembus cahaya sehingga hasilnya adalah suatu bentuk
negatif.
Bahan
Bahan yang digunakan untuk
scribing disebut scribcoat yang terdiri dari dua lapisan yaitu: lapisan dasar dan lapisan permukaan. Lapisan
dasar harus dari bahan yang stabil, tembus cahaya serta cukup kuat/keras untuk
mencegah tembusnya lapisan tersebut dari goresan pena scribing.
Plastik PVC dan polyester
merupakan bahan yang memenuhi syarat untuk lapisan dasar ini. Lapisan permukaan
juga terbuat dari bahan plastik yang harus cukup kuat agar tidak rusak kalau
dipegang dengan tangan biasa dan di samping itu juga harus cukup lunak agar
memudahkan dalam melakukan scribing tersebut.
Scribing adalah salah satu
proses negatif yakni gambar yang terdiri dari garis-garis transparan pada bahan
yang opaque. Untuk memperoleh hasil gambar positif, scrib negatif kita kopi
(kontak) secara photografi.
Scribcoat tersedia dalam
bermacam-macam warna tetapi yang penting lapisan permukaannya harus tidak tembus
cahaya. Warna dari lapisan permuaan ini tidak boleh terlalu menyolok agar tidak
melelahkan mata pada waktu melakukan pekerjaan scribing.
Langkah-langkah Menggambar Peta:
1.
Persiapkan
satu lembar plastik mika, spidol, penggaris, karet penghapus dan hasil foto
udara yang telah dicetak.
2.
Amati
kenampakan-kenampakan hasil foto udara yang telah dicetak tersebut sebelum digambar
di atas plastik mika.
3.
Letakkan
plastik mika di atas hasil foto udara yang telah dicetak. Mula-mula beri garis
tepi sebagai pembatas wilayah yang digambar dengan spidol berwarna hitam. Lalu
warnai dan arsir berbagai kenampakan yang ada sesuai dengan aturan pewarnaan
kartografi. Misalnya hijau untuk kenampakan yang berupa vegetasi.
Kesimpulan:
Menggambar peta termasuk
bidang reproduksi dalam kartografi. Menggambar secara manual dengan menggunakan
plastik mika sebagai bahan materialnya merupakan bahan yang enak untuk
digunakan sebagai media menggambar, mudah didapat dan harganya relatif murah. Penggunaan
spidol yang sesuai juga akan mendukung kualitas peta yang dihasilkan. Tidak
hanya alat dan bahan saja yang harus diperhatikan tapi juga kemampuan dalam
menginterpretasi untuk mendapatkan peta yang baik dan tidak membingungkan dalam
pemberian informasi tentang suatu wilayah. Dalam proses menggambar peta membutuhkan
ketelitian yang tinggi untuk mengamati kenampakan-kenampakan yang ada dalam
hasil foto udara sebelum di gambar di atas plastik mika. Selain itu dalam
menggambar peta harus sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Daftar Pustaka
Buranda, J.P; M. Yusuf Idris. 1985. Dasar-dasar Kartografi I.
Malang: IKIP Malang.
Hartono, Rudi. 1991. Kartografi. Malang: IKIP Malang.
Taryana, Didik. 1995. Kartografi (Bahan: Dasar-dasar Kartografi).
Malang: IKIP Malang.
Komentar
Posting Komentar