Semusim... (part 2)

Kau kenapa?” kata-kata itu yang keluar pertama kali.

Tanpa kumenjawab langsung saja aku beranjak dari tempat dudukku dan berusaha menghindarinya. Aku tak tahu harus memberikan jawaban apa. Aku butuh waktu untuk sendiri. Akupun berlari dan entah kemana aku harus berlari. Ke lapangan Baseball. Ya.. kesanalah aku berlari. Kuharap ia tak menemukanku di tengah kerumunan penonton.

Kurasakan getaran dari sakuku. Sebuah pesan diterima. Tebakanku benar. Lagi-lagi Bintang mengirim pesan. Aku bosan dengannya hari ini.

From: Bintangku
Adk kcil.. Qm di mna?
Jgn truz mnghindar drQ..
Apa kau baik2 sja?

Akhirnya aku menyerah dengan keadaan. Aku menemuinya yang sedang menungguku di depan kelasnya. Aku duduk di dekatnya dan menunggunya bicara. Beberapa detik telah berlalu kita masih terdiam. Mungkin dia juga menungguku untuk bicara.

Baiklah, aku yang memulai. Maafkan aku jika selalu menghindar darimu. Ketahuilah bahwa suatu saat seseorang juga akan berada di titik jenuhnya terhadap hari-hari dalam hidupnya. Begitu juga denganku. Namun bukan berarti aku bosan dengan persahabatan ini. Aku hanya ingin sehari tanpamu,”

Kurasa semua sudah jelas. Tentu saja menurutku. Aku tahu kau sahabatku tapi kau tak berhak atas hidupku, Bintang. Kau tahu bahwa aku harus mengalahkan egoku dan membiarkanmu merenggut waktuku? Kau selalu berpikir bahwa setiap saat aku bersamamu, aku merasakan bahagia? Salah jika kau berpikir begitu. Tak selamanya sahabat itu membuatku bahagia. Mengapa kau takut ketika aku bersikap dingin padamu? Apa kau pernah berpikir bagaimana aku saat kau selalu meninggalkan aku sendiri bersama kesunyian? Bagaimana denganku yang selalu tersenyum saat kau berkata kasar dan tiba-tiba menjadi dingin?

Ketika ia terdiam seribu bahasa itulah kesempatanku untuk pergi. Aku pergi meninggalkannya yang tengah terdiam dan mencoba untuk memahami setiap kata yang keluar dari bibirku. Walau sebenarnya aku tak ingin membebaninya namun aku juga tak ingin terus menyiksanya dengan tanda tanya. Aku bukan seseorang yang dapat memendam apapun yang aku rasakan sendiri dan kejujuranku juga tak mahal. Namun aku takut jika kata-kataku menyakitinya.
♥♥♥
Tertawa bersama memang menyenangkan karena aku tak suka kesepian dan aku tak pernah berharap kesepian itu datang meski kadang aku menginginkan kesendiarian tapi bukan kesepian. Tiba-tiba saja dia datang ke rumahku. Aku ingin menghindar lagi. Tapi, aku rasa percuma dan aku pikir untuk apa aku menghindarinya. Dia sahabatku. Sahabat terbaik yang pernah aku miliki hingga saat ini.
Saat kudengar seseorang mengetuk dari balik pintu rumahku, aku pun membukanya dan betapa kagetnya aku saat kudapati Bintangku di sana. Ia tersenyum padaku. Tapi saat aku menyuruhnya masuk ia hanya tersenyum dan duduk di teras. Aku pun tak memaksanya dan duduk di dekatnya.
 
Ada apa?” tanyaku tanpa memandang wajahnya yang aku tahu sedari tadi ia memerhatikanku. 
 
Adik kecil, aku hanya ingin bertemu denganmu, mendengar suaramu dan menatap mata indahmu,”

Lalu? Bukankah setiap hari kau bisa mendapatkan itu semua dariku?”

Ya, aku tahu. Tapi, tidak untuk hari ini. kau terlalu jauh berlari dari pandanganku, aku tak dapat meraih tanganmu, aku tak bisa mengejarmu dan menangkap cahaya matamu,”

Aku terdiam beberapa saat dan berpikir. Seperti itukah saat aku sedikit menjauh dari dirinya? Kasihan juga kalau melihat dirinya yang biasanya tertawa bersamaku, kini menjadi sedikit murung. 
Senyumnya lenyap seketika. 
 
Kau mengerti, Adik kecilku?”

Aku hanya mengangguk sebagai tanda aku mengerti apa yang diucapkannya. Akhirnya aku tak harus menghindarinya lagi. Sebegitu kerasnya ia berusaha hanya untuk membuatku tak menghindar darinya.

Bintang itu ternyata lebih indah dari bintang-bintang di langit. Bintang yang selama ini aku anggap terlalu tinggi untuk kuraih ternyata ia begitu dekat,”

Ya, karena bintang itu aku,” Ia tertawa lepas. Aku tersenyum mendengarnya. Saat-saat seperti inilah yang tak ingin terlewatkan bahkan aku ingin waktu berhenti saat aku bersamanya, tertawa bersamanya. 
 
Sebentar,”

Mau kemana?”

Mengambil jaketmu,” kataku.

Tidak perlu. Itu akan menghangatkanmu saat kau merasa kedinginan,”

Jadi… untukku? Benarkah? Aku kembali duduk bersamanya. Sepi, tak ada di antara kita yang berbicara. Sedari tadi ia mencari-cari sesuatu di antara Leaf Clover . Tiba-tiba saja ia memetik 4 Leaf Clover dan memberikannya padaku. Untuk apa? Aku bertanya pada diriku sendiri. 
 
Kau tahu untuk mengapa aku memberimu 4 Leaf Clover mengapa bukan setangkai bunga Mawar atau bunga yang lain?”

Aku menggelengkan kepala. Aku tak mengerti mengapa dia hanya memberiku 4 Leaf Clover. Hanya daun biasa. Tapi aku tahu daun itu seperti bentuk hati jika diperhatikan sungguh-sungguh. Lalu apa hubungannya denganku?

Leaf Clover berdaun empat ini sebagai pembawa keberuntungan bagiku. Buktinya aku beruntung berada di sini denganmu, karena kau selalu membuatku beruntung dan hari-hari yang indah untukku,”
Begitukah? Aku baru tahu tentang ini. Apapun yang diberikannya akan tetap aku terima dengan baik. Sebab aku percaya seorang sahabat yang baik akan memberikan apapun yang terbaik untuk sahabatnya. 


Terima kasih,” kataku sambil menebar senyum padanya. Aku terus memerhatikan 4 Leaf Clover di tanganku. Kami juga kembali terdiam. Krik… krik… krik… suara jangkrik yang terdengar semakin keras. Kunang-kunang juga tampak bercahaya di kegelapan.
♥♥♥
Cerahnya pagi ini secerah hatiku. Hidupku terasa kembali normal. Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 07.00. Perlahan aku berjalan menuju jendela kamarku yang tak jauh dari tempat tidur. Perlahan kubuka tirai biru muda dengan gambar-gambar kartun kesukaanku. Cahaya matahari menembus jendela kaca itu dan menyilaukan mata.

nando mo nando mo okuru yo
kimi ga sagashiteiru mono
mayoi no subete wo tokashite
ikite yukou FOREVER LOVE
(Forever Love-Tohoshinki)

Ponselku berdering. Seseorang meneleponku, Bintangku. Masih pagi, tak seperti biasanya. 
 
もしもし1ada apa?” tanyaku pada seseorang di seberang sana.

Aku sudah ada di depan rumahmu. Cepat mandi dan segera keluar!” jawabnya.

Benarkah? Aku melihat lewat jendela kamarku untuk memastikan ia tidak membohongiku lagi. Memang benar ia di depan rumahku. Tanpa aku bicara lagi langsung saja aku menutup telepon dan menyambar handuk yang tergantung di dekat kamar mandi lalu mandi. Selasai mandi bergegas aku mengambil jaket dan tas lalu secepatnya keluar. Ia masih menungguku dengan sabar. 
 
Lama sekali,”

Maaf,”

Ia melaju kencang dengan mobil merahnya. Kenapa harus naik mobil? Kau tahu, kan? Aku lebih suka kesederhanaan, kataku dalam hati. Hari ini hari Sabtu itu berarti ia akan ke lapangan basket pagi ini. Tapi… kenapa ia memakai t-shirt hitam dan celana Jeans?

Jauh di pinggiran kota ia berhenti di depan sebuah bangunan yang terlihat sudah tua tapi masih tampak kokoh. Sesaat kemudian pintu pagar terbuka otomatis. Mobil merah itu membawa kami masuk dan Bintangku memarkirnya. Kami pun keluar dari mobil. 
 
Di sana tampak beberapa anak berlari dengan riang. Mengingatkanku pada masa kecil yang terlalu lama berlalu dan kurasa terlalu cepat berlalu. 
 
Seperti kau, Adik kecil,” kata Alfino sambil menunjukkan padaku seorang gadis kecil yang duduk di bawah pohon Maple dengan mahkota bunga di kepalanya. Membuatnya semakin tampak manis. Pipinya yang merah dan rambut panjangnya yang terurai, seperti aku di masa kecil. 
Aku hanya tersenyum dan terus mengamatinya, beberapa kali kami sempat beradu pandang. Namun dia kembali tertunduk.

Ayo, cepat sedikit!”

Kupercepat langkah kakiku mengikuti kemanapun ia berjalan. Setelah memasuki gedung utama ia menemui seseorang yang tampaknya kepala yayasan ini. Entah apa yang dibicarakan mereka berdua, aku hanya duduk, menunggu. Tak lama kemudian ia berbalik lalu berjalan menujuku. Sedangkan orang tadi pergi menaiki tangga.
 
Ini yang tak pernah kau tahu sebelumnya. Mungkin kau tak pernah menyangka bahwa aku memiliki seorang adik. Ya.. adik laki-laki yang menjadi kesayangan keluargaku. Selain itu aku juga takut. Takut jika kumenangis di hadapanmu. Sedari dulu aku tak pernah bisa menahan air mataku setiap kali bercerita tentangnya,”

Aku tak dapat berkata-kata lagi. Aku mengerti sekarang. Di balik Bintang yang selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja sebenarnya ia tak selalu baik. Sudah berapa lama ia menyembunyikan ini padaku? Mungkin aku tak akan pernah tahu dan tak akan pernah mengerti jika selamanya ia hanya diam akan hal ini.

A…” 
 
Aku terhenti tiba-tiba ketika seorang paruh baya tadi menuruni anak tangga satu per satu bersama seorang remaja dengan ransel hitam yang di bawanya semakin mendekat menghampiri kami yang tengah duduk. Mereka semakin mendekat hingga akhirnya mereka benar-benar berada di depan kami. Alfino berdiri dan mengucap terima kasih pada perempuan paruh baya itu. Lalu ia menggandeng tangan anak laki-laki itu dan beranjak pergi. Tapi aku masih duduk dan merasa seolah ini hanya mimpiku. 
 
Hei, ayo!”

1 Sapaan saat menerima telepon, dalam bahasa Jepang (Hallo)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM HANDASAH ACARA I PENGENALAN ALAT

Let's Talk About Love

MAKALAH : KONTRIBUSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA DIKAJI DARI GEOGRAFI EKONOMI